4ayesha

Daripada ABU HURAIRAH r.a, RasuluLLah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang menyeru (manusia) kepada hidayah, maka baginya pahala sebanyak pahala yang diperolehi oleh orang-orang yang mengikutnya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka." Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab al-'Ilm (2674), Imam Malik dalam Muattha'(2674), Ahmad (9171), Abu Dawud (4609), Turmudzi (2674), ad-Darimi (513), ibnu Majah (206), ibnu Hibban (112), al-Bagahwi (109)

Followers


Dari Abu Musa menceritakan bahawa suatu ketika dua orang dari suku bapa saudaranya datang kepada Rasulullah SAW, yang seorang mengatakan, “Angaktlah kami untuk jawatan pemerintahan, ya Rasulullah. Dan yang seorang lagi mengatakan perkataan serupa. Baginda SAW menjawab, “Sesungguhnya kami tidak akan mengangkat untuk itu orang yang memintanya dan tidak pula orang yang sangat menginginkannya.”
(HR Muslim)

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW baginda bersabda, “Sesungguhnya kamu sangat menginginkan jawatan pemerintahan tetapi di hari Kiamat hal itu menjadi penyesalan. Amat baik perempuan yang menyusukan anaknya dan amat buruk perempuan yang berhenti menyusukan.”
(HR Bukhari)

Dari Abdurrahman bin Samurah RA, berkata bahawa, Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Hai Abdurrahman, janganlah kamu melamar pangkat Amir; kerana jika kamu diangkat kerana permohonanmu, beratlah tanggungjawabmu; dan jika pangkat itu diberikan kepadamu tanpa lamaran, tanggungjawabnya lebih ringan.”
(HR Muslim)

Dari Abu Zar, ia berkata, “Pernah aku berkata kepada Rasulullah SAW, apakah tuan tidak dapat mengangkat aku menjadi pegawai pemerintah?” Rasulullah SAW menjawab sambil menepuk bahuku, “Hai Abu Zar, kamu adalah orang yang lemah; sedangkan pekerjaan itu adalah amanat Allah yang kelak pada hari kiamat mungkin membawa kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang memenuhi syarat dan menjalankannya dengan wajar menurut semestinya.”
(HR Muslim)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunahnya). Jika kamu enar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’:59)

“Nanti sesudahku akan memerintah urusan kamu orang-orang yang memadamkan Sunah dan menghidupkan bidaah serta mengakhirkan solat dari waktunya.” Ibnu Mas’ud berkata, “Ya Rasulullah apa yang harus ku lakukan jika aku menjumpainya?”
Rasulullah SAW menjawab, “Seorang hamba Allah tidak boleh taat kepada orang yang maksiat kepada Allah.” Baginda mengucapkan kata-kata itu sebanyak 3 kali.
(HR Ahmad)

Mawardi berkata, “Jika seseorang tinggal di suatu negara yang dapat melaksanakan agamanya, sedangkan negara tersebut bukan Darul Islam maka negara tersebut menjadi Darul Islam bagi dirinya. Maka tetap tinggal dan melaksanakan agama di negeri tersebut lebih utama daripada ia harus pergi ke negara lain dengan harapan orang lain dapat masuk Islam.”

Src : majalah Hidayah Bil : 123 (Zulkaedah 1429/November 2008)


Morning light through the bedroom window
Slow motion dust specks swirling in the sun
I close my eyes, and I’m floating along.
Sun did you warm the face of the Prophet
The way you warm mine, and make this room glow.
Dust were you brushed from the beard of the Prophet,
Coming from Jihad so long ago.

CHORUS:
Allah humma Salli Ala Muhammad
Ya Rabbal Alameen
Allah humma Salli Ala Muhammad
Salallahu Alayhi Wa Sallam

Rain pouring down upon my garden.
Rhythm of the rain that sings its song.
I close my eyes, and I’m floating along.
Rhythm of rain were you once a river,
That purified the Prophet before his prayers.
Were you the same breath from the lips of the Prophet,
Carrying wisdom to thirsty ears?

CHORUS

Sharp clear crescent, lighting the blue night
Slipping in silence through the star scattered sky
I close my eyes, and I know that I belong.
Were you the same moon who lit the way of the Prophet,
Slipping through the desert on his Hijrah.
Stars did you map the way to Madinah
For the blessed Messenger of Allah?

CHORUS

And I close my eyes, and I’m floating along.
And I close my eyes, and I’m drumming along.
And I close my eyes, and I know that I belong.
THE BLUE SKY IS BLUE

CHORUS:
The blue sky is blue like blue bubble gum,
But it prays to Allah, it prays to Allah.
And like the flavour of the blue sky and the bubble gum won’t last,
We’ve got to thank Allah before our chances go past.

I don’t want to be a grown-up like the grown-ups I have seen,
Because the grown-ups I have seen don’t seem to have much fun.
They don’t get down on the floor enough to pray or play with toys,
When I’m a grown-up I won’t want to be one.

Now if I lived back at the time of the Prophet,
I know that he would be different; I just know he’d find the time.
And I would make him something special like some paper planes or something,
I could race those planes with him or get a camel back ride.

src : http://www.youtube.com/watch?v=d3p3h0AgKe0


Jawapannya, tidak.

Kita TIDAK boleh benci Yahudi kerana dia bangsa Yahudi.
Kita PERLU ingt, ada Yahudi yg beragama Islam.
Kita TIDAK boleh benci Yahudi kerana dia beragama Yahudi.
Kita PERLU ingat, nabi SAW sendiri pernah bekerjasama dgn Yahudi.

TETAPI, kita membenci/berkeras/menentang org2 Yahudi yg melakukan kejahatan, kezaliman, etc... terhadap org2 Islam mahupun bkn Islam.

Itu sbb dlm al-Quran, apabila disebut kan perkataan Yahudi, perkataan yg digunakan adalah 'al-Yahuud'.

al-Yahuud berbeza dgn Yahuud.

al-Yahuud bermaksud 'the Jews'. Ini bermakna ia merujuk kpd yahudi2 tertentu, merujuk kpd konteks ayat. Biasanya ia merujuk kpd mereka yg melakukan penentangan keras thdp org2 Islam.

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik." (al-Maidah 5:82)

Yahuud pula bersifat lebih umum, dgn kata lain, ia bermaksud semua/mana2 yahudi.

Mungkin dlm masa skrg, Yahudi yg kita tentang adalah golongan zionis; yg melakukan pencerobohan, perompakan dan penindasan terhadap bumi Palestin.

Ramai juga rahib2 Yahudi dan orang-orang Yahudi lain yg menentang pencerobohan tersebut. Kita tidak bermusuh dgn golongan ini.

WaLLahu a'alam.

src : reply email from JAKIM


Heal The World - Michael Jackson

There's A Place In
Your Heart
And I Know That It Is Love
And This Place Could
Be Much
Brighter Than Tomorrow
And If You Really Try
You'll Find There's No Need
To Cry
In This Place You'll Feel
There's No Hurt Or Sorrow

There Are Ways
To Get There
If You Care Enough
For The Living
Make A Little Space
Make A Better Place...

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me


If You Want To Know Why
There's A Love That
Cannot Lie
Love Is Strong
It Only Cares For
Joyful Giving
If We Try
We Shall See
In This Bliss
We Cannot Feel
Fear Or Dread
We Stop Existing And
Start Living

Then It Feels That Always
Love's Enough For
Us Growing
So Make A Better World
Make A Better World...

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

And The Dream We Were
Conceived In
Will Reveal A Joyful Face
And The World We
Once Believed In
Will Shine Again In Grace
Then Why Do We Keep
Strangling Life
Wound This Earth
Crucify Its Soul
Though It's Plain To See
This World Is Heavenly
Be God's Glow

We Could Fly So High
Let Our Spirits Never Die
In My Heart
I Feel You Are All
My Brothers
Create A World With
No Fear
Together We'll Cry
Happy Tears
See The Nations Turn
Their Swords
Into Plowshares

We Could Really Get There
If You Cared Enough
For The Living
Make A Little Space
To Make A Better Place...

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

You And For Me
You And For Me
You And For Me
You And For Me
You And For Me
You And For Me
You And For Me
You And For Me
You And For Me
You And For Me
You And For Me



Each day we are reminded
and each day we say
there's not much that we can do
it seems so far away
So we live our lives in silence
pretending not to hear
the voices of our people
The cry is so so clear
Why do we stand by spectating
while our brothers cry jihad?
We are bound by one conviction:
we believe in Allah
Chorus:
Have you heard of Kosova, of Afghanistan?
Have you heard of Palestine [2nd chorus: Bosnia]
of Chechan?
Have you heard of all these people
persecuted in their land?
Do you know that all these people are dying for Islam?
Have you heard, have you heard
have you heard?
Each day is like another
Nothing seems to change
Today he'll lose his brother
Tomorrow will be the same
Yet his faith makes him stronger
he's come so so far
The pain in his heart is eased
by his love for Allah
O I envy you my brother
in adversity you pray
You know that heaven awaits you
at the end of this day


src : http://www.lyricstime.com/zain-bhikha-have-you-heard-lyrics.html


“Barangsiapa dari kalangan kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Andai tiada keupayaan, maka lakukan dengan lisannya. Andai tiada juga keupayaan, maka lakukan ia dengan hatinya. Dan demikian itu adalah selemah-lemah iman” “ Muttafaq ‘alayh

Apabila kita berdepan dengan kemungkaran, dalam apa bentuk sekali pun, kita boleh bertindak dan memberikan reaksi dalam tiga bentuk. Sama ada kita bertindak mengecam dan mengutuk kemungkaran itu, bertindak mencegah, atau mengubah kemungkaran yang berlaku.

MENGECAM


Kaedah mengecam adalah kaedah yang paling mudah. Dunia tanpa sempadan hari ini memberikan banyak ruang kepada kita untuk menyalurkan kecaman, sebanyak mungkin. Kecaman tidak memerlukan banyak modal. Sama ada modal fikir, modal idea, modal dakwah, jauh sekali modal material yang menuntut pengorbanan.

Kecam tidak perlu kepada analisis. Melaporkan apa yang berlaku, dan mengharapkan massa memahaminya, tanpa sebarang analisis adalah apa yang saya maksudkan sebagai pendekatan mengecam. Kecaman mempunyai peranan yang tersendiri, iaitu untuk membangkitkan rasa memberontak dan menyatakan penentangan. Namun ia kurang bermanfaat bagi mereka yang mahu mengambilnya sebagai suatu kepedulian.

Mungkin inilah masalah yang membelenggu halaman-halaman web pro Palestin yang banyak kedapatan di internet. Anda akan bertemu dengan salinan berita yang di’cut and paste‘ tanpa membekalkan analisa dan statistik yang berguna. Ini harus menjadi satu titik muhasabah mengapa lambakan berita itu tidak memberikan impak yang diharapkan. Ia hanya sebuah kecaman.

Apatah lagi media Malaysia yang bulat-bulat menterjemahkan sahaja apa yang dilaporkan oleh New York Times, Reuters, CNN dan yang seangkatan dengannya.

MENCEGAH

Kita juga boleh memberikan reaksi dalam bentuk mencegah secara defensif. Berusaha untuk menyelamatkan diri dan mereka yang berada di dalam tanggungan kita daripada terjebak ke dalam kemungkaran itu.

Kaedah ini mempunyai fungsi dan peranan yang tersendiri. Menjauhkan diri dari anasir-anasir Zionis yang turut membabitkan pemboikotan produk mereka, adalah sebahagian daripada teknik mencegah. Ia boleh menyelamatkan diri, menghalang diri dari terlibat dan menyumbang kepada kekuatan musuh dan melepaskan diri dari kewajipan peribadi.

Akan tetapi ia tidak akan menghalau pergi kemungkaran berkenaan, apatah lagi pada kekuatan Zionis yang mencengkam bumi Palestin. Ia akan terus duduk di situ dan menelan mereka yang gagal mencegah diri. Pemboikotan mendatangkan kejemuan apabila tindakan kita tidak setanding dengan keupayaan Amerika Syarikat menyumbang jutaan Dollar sehari kepada regim Zionis.

Lama kelamaan perbuatan kita mencegah kemungkaran hanya sekadar dalam format menyelamatkan diri sendiri, akan menjadi seperti seorang yang melindungi anaknya di dalam kandang harimau. Setelah penat, akhirnya kita kalah dan mati dibaham harimau, semata-mata kerana PUNCA masalah dibiarkan berleluasa.

Saya tidak bermaksud untuk memperkecilkan tindakan boikot, tetapi apa yang ingin ditegaskan adalah pada memaksimakan bantahan melalui strategi-strategi yang pelbagai. Ia harus lebih dari sekadar protes dan boikot.

MENGUBAH


Akan tetapi, hadith di atas meletakkan kerangka bertindak yang paling optimum sebagai reaksi kita kepada kemungkaran. Baginda SAW menggunakan perkataan (falyughayyirhu) dengan maksud mengubah. Kemungkaran bukan hanya perlu dikecam dan kita tidak hanya dituntut untuk menyelamatkan diri, namun agenda berdepan dengan kemungkaran mestilah berpaksikan kepada maksud MENGUBAH. Itu standard yang ditetapkan oleh Baginda SAW terhadap isu ini.

Apabila kemungkaran itu mahu diubah, pendekatan kita mestilah tepat dengan sasaran perubahan. Ia memerlukan kepada analisa yang tepat, dan mensasarkan penentangan kepada punca sebenar permasalahan yang ingin diperkatakan.

Di sinilah saya cuba mengajak hadirin untuk melihat semula bentuk usaha perjuangan tentang Isu Palestin yang ada di dalam masyarakat hari ini.

KELOMPOK SASAR


Isu Palestin mencakupi dua kelompok terpenting iaitu kelompok MANGSA dan kelompok PUNCA.

Kelompok mangsa yang saya maksudkan di sini adalah mereka yang menerima kesan langsung daripada kekejaman Zionis di bumi Palestin, iaitu penduduk Palestin yang terdiri daripada kaum Muslimin dan minoriti Kristian yang turut terkesan. Maka seruan untuk membela golongan ini, dilakukan dalam bentuk yang membangkit dan meniupkan semangat mereka untuk tidak mengaku kalah dan terus berusaha untuk keluar daripada belenggu kekejaman rejim Zionis.

Pendekatan mengecam dan mencegah jika dilakukan dengan baik, cukup memberikan impak untuk mengukuhkan barisan penentang, sama ada dari kalangan mangsa langsung, atau umat Islam sedunia yang turut menanggung kepedihan jenayah Zionis itu.

Manakala kelompok kedua adalah kelompok punca.

Pihak manakah sebenarnya yang menjadi punca kepada segala krisis yang membelenggu penduduk Palestin? Apakah rejim Zionis mampu bertindak sendirian berterusan menekan dan menindas? Kita semua tahu bahawa Zionis tidak mampu berdikari melainkan ada sokongan besar yang datang dari luar, tidak lain dan tidak bukan Amerika Syarikat.

“Kemudian, Kami kembalikan kepada kamu kekuasaan untuk mengalahkan mereka, dan Kami PERPANJANGKAN kepada kamu dengan banyaknya harta kekayaan dan anak pinak, serta Kami jadikan kamu kaum yang lebih ramai pasukannya.” (Al-Israa’ 17: 6)

Keterangan al-Quran bahawa keupayaan Zionis untuk melakukan kerosakan kedua di muka bumi, datang dari sumber yang diperpanjangkan, seharusnya menjadikan kita amat sedar tentang implikasi sokongan luar yang diberikan kepada Zionis.

Laporan http://www.ifamericansknew.org menjelaskan bahawa Israel menerima bantuan di antara 10 ke 15 juta US Dollar sehari daripada Amerika Syarikat. Jumlah ini mengatasi jumlah keseluruhan bantuan Amerika Syarikat kepada negara-negara Amerika Latin, Sub Sahara Afrika dan Carribean.

Kekuatan utama rejim Zionis di Palestin adalah sokongan Amerika Syarikat. Negara kuasa besar dunia itu berupaya memanipulasi kewangannya sendiri untuk memberikan sokongan dan bantuan kepada rejim Zionis hasil kombinasi beberapa pihak, khususnya media di Amerika Syarikat yang tidak melapor, melapor secara simplistik, atau memberikan laporan yang salah, untuk mengawal kefahaman penduduk Amerika Syarikat tentang isu Palestin.

Penduduk Amerika Syarikat adalah PUNCA UTAMA kepada keupayaan rejim Zionis di Palestin. Merekalah yang membayar cukai pendapatan sebagai sumber kewangan negara, merekalah yang memilih anggota Kongress dan Senat, dan seterusnya merekalah yang menentukan siapakah bakal Presiden Amerika Syarikat yang seterusnya, selaku pemain utama yang menentukan polisi luar Amerika Syarikat.

Oleh itu, segala usaha dilakukan untuk mengawal saluran maklumat kepada penduduk Amerika Syarikat, dan usaha ini dilakukan dengan teliti hasil kajian beberapa tangan pakar, iaitulah Orientalis yang berdiri di sebalik kabinet pemerintah Amerika Syarikat.

Orientalis inilah think tank yang mengajar media dan pemerintah, teknik-teknik memberikan impression kepada penduduk Amerika Syarikat tentang laporan isu Palestin dari semasa ke semasa.

Apabila reaksi kita terhadap kemungkaran ini diletakkan atas maksud MENGUBAH, maka perubahan itu tidak mungkin boleh berlaku, jika kita memprotes dengan bahasa yang tidak difahami oleh penduduk Amerika Syarikat. Bukan soal Bahasa Inggeris atau Arab, tetapi bahasa yang saya maksudkan di sini adalah pendekatan kita dalam menyuarakan bantahan.

Seandainya kita cuba mengubah pandangan penduduk Amerika Syarikat dengan bahasa yang menjadikan mereka sebagai musuh kita, setaraf dengan rejim Zionis itu sendiri, maka tindakan kita akan menjadi seperti menarik kucing di atas tikar. Makin kuat kucing ditarik, makin kuat kukunya mencengkam.

Mereka akan terus takut dengan suara kita yang memukul rata bahawa semua Yahudi dan Nasrani adalah musuh dan mereka harus diperangi. Akhirnya, mereka akan terus menyanggupkan diri membiarkan kerajaan menghabiskan duit negara sehingga lebih USD10 juta sehari demi untuk mengekang kebangkitan manusia Palestin, Arab dan Muslim yang dipaparkan sebagai ganas, barbarik dan sentiasa mencari peluang untuk mengancam mereka.

Penat lelah kita hanya berkeupayaan mengekalkan kemarahan umat Islam terhadap kezaliman rejim Zionis, tetapi jauh sekali untuk mempengaruhi dan mengubah pandangan penduduk Amerika Syarikat terhadap keadaan sebenar di Palestin. Hal ini terjadi kerana protes kita tersalah sasar.

Maka umat Islam perlu bangkit menyatakan bantahan, bukan hanya pada menyatakan kemarahan dan berdemonstrasi, tetapi turut mendedahkan strategi media Barat memanipulasi sebaran maklumat. Ia juga harus dikritik dengan tajam, dan kehebatan golongan Orientalis yang menjadi penasihat kerajaan dan media, mesti dipatahkan dengan keilmuan yang setanding.

Teknik yang digunakan oleh media Amerika Syarikat dalam melaporkan isu Palestin, mesti diteliti. Peranan golongan pemegang saham media Amerika Syarikat mesti dikenal pasti. Dan keupayaan mereka untuk menjayakan gagasan ini berakar umbi pada tradisi Orientalisma kerana Orientalisma adalah falsafah Barat mempersembahkan Timur.

“They cannot represent themselves, they must be represented” - Karl Marx, The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte


“The East is a career” - Benjamin Disraeli, Tancred

Kita mesti buktikan kepada mereka bahawa kita TAHU apa yang mereka lakukan dan BAGAIMANA mereka melakukannya.

Kerana itulah, saya memilih tajuk Palestin dan Orientalisma, sebagai subjek yang dibentangkan di Darul Fuqaha pada 13 Mei 2007 untuk menyuluh hal ini. Perjuangan kita membantu Palestin hendaklah memanfaatkan usaha yang dilakukan oleh tokoh seperti Edward Said yang Kristian tetapi amat besar impaknya kepada polisi Amerika Syarikat terhadap Palestin. Perjuangan mendedah dan melaporkan kejahatan Zionis juga hendaklah mengambil manfaat dari contoh halaman web pro Palestin IFAMERICANSKNEW.ORG milik Yahudi di Amerika Syarikat yang pro Palestin (mereka digelar self-hated Jews!), dalam usaha mereka untuk mendedahkan konspirasi gergasi Barat membodohkan dunia, demi survival rejim Zionis.

Kita juga mesti mencari formula untuk memperkatakan tentang isu Palestin dalam bahasa global yang boleh mengajak mereka yang bukan mangsa dan bukan punca, untuk terbabit sama.

Golongan bukan Muslim di mana-mana, harus disedarkan dengan menggunakan pendekatan ini, bahawa isu Palestin bukan hanya isu Islam dan Arab, tetapi ia adalah isu kezaliman terhadap kemanusiaan yang terbesar, dalam sejarah kemanusiaan itu sendiri.

Konspirasi ini tidak boleh dijatuhkan dalam kerangka “Menjahilkan Diri Terhadap Musuh“. Jauh sekali retorik dan slogan semata-mata. Jauh sekali dari laporan media yang hanya berupaya melapor, tetapi tiada analisa yang boleh memberikan impak yang cukup untuk menangkis media Amerika Syarikat yang mainstream.

Kenali musuh untuk melemahkan mereka, jahilkan diri terhadap musuh untuk mensesiakan keletihan kita.

src : http://saifulislam.com/?p=470


Menurut Rasulullah SAW, ada tiga penyakit yang akan menghancurkan amalan seseorang iaitu yang pertama ialah takbur atau sombong.

Imam al-Ghazali dalam kitab 'Ihya Ulumuddin' berkata, takbur akan menjadi batas pemisah antara seseorang dengan kemuliaan akhlak. Orang takbur akan selalu mendustakan kebenaran, menganggap rendah orang lain dan meninggikan dirinya. Sedikit saja di hati ada sikap takbur, maka syurga akan menjauh, amalan tidak mempunyai erti.

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Tidak akan masuk syurga seseorang yang dalam hatinya ada sikap takbur walaupun sebesar debu.” (Hadis riwayat Muslim)

Kedua, hasad atau iri hati (dengki). Ciri khas seorang pendengki adalah adanya rasa tidak rela melihat orang lain mendapat nikmat dan sangat berharap nikmat itu segera lenyap daripadanya. Ia susah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah. Dengki sangat berkesan menghancurkan kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (Hadis riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)

Ketiga, riak atau beramal kerana mengharap pujian orang lain. Riak adalah tingkatan terendah daripada amalan. Rasulullah SAW menyebutnya syirik kecil yang juga boleh menghapuskan kebaikan.

Allah tidak akan menerima suatu amalan yang dalamnya ada seberat debu saja perasaan riak. Hadis qudsi mengungkapkan bagaimana murkanya Allah kepada orang yang riak dalam amalannya.

Pada hari kiamat Allah berfirman, ketika semua manusia melihat catatan amalannya, “Pergilah kamu semua kepada apa yang kamu jadikan harapan (riak) di dunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan daripada mereka.” (Hadis riwayat Ahmad dan Baihaqi)

Firman Allah yang bermaksud: “Maka kecelakaanlah bagi orang yang solat (iaitu) orang yang lalai dari solatnya dan orang berbuat riak.” (Surah al-Maa'um, ayat 4 - 6)

Petikan tulisan Ibrahim Abdullah
Berita Harian, 15 Ogos 2008

src : http://ainul-basyirah.blogspot.com/2008/08/takbur-hasad-riak.html


Berapa Kali Nak Cakap,Couple tu Haram
www.iLuvislam.com
oleh: umairzulkefli

Pernah seketika dulu saya rasa saya tak berguna..
Masa dalam kelas kawan-kawan semua tak suka..
Saya nak 'join', kawan kata saya menyibuk..
Ada pula yang kate saya kuat emo..
Sikit-sikit nak marah..
Padahal sebenarnye saya nak tegur mereka buat bising masa belajar..

Lepas tu saya cuba buat lawak
kononnya nak tarik perhatian orang lain
saya paling gembira bila ada orang gelak bila dengar lawak saya
terutamanya pelajar-pelajar perempuan..
Budak-budak lelaki semua kata saya 'mat capub'(cari publisiti)..
tapi saya tak kesah..
asalkan ada yang terhibur..

Tapi saya tetap merasakan kekosongan..
Memang lumrah manusia..
Seoarang lelaki akan tertarik kepada wanita
Macam itulah yang saya rasa..
Saya tengok kawan-kawan dah ada yang 'couple'..
Di dorm sms awek sampai pagi..
ada yang call awek sampai satu malam boleh habis 10 ringgit..

Saya mula berfikir..
"Adakah aku perlu BERCINTA?"
Dengan menggunakan akal seorang pelajar tingkatan 4 itu..
saya pun mula menanam tekad untuk ber'couple'..
Dan masa itulah saya kenal awak..
saya rase saya dah jumpa orang yang paling penting dalam hidup saya..

Mula-mula awak jual mahal..
Tapi saya tak kisah..nak beli gak..
akhirnya, dipendekkan cerita..
saya pun mulalah BERCINTA..

Masa bercinta,memang saya sangat-sangat bersemangat
Apa orang kata..'ALL OUT'lah..
haha..
Saya selalu call awak,awak pun selalu call saya..
'gayut' malam-malam..kadang-kadang saya pun habis RM10 satu malam..
Tetapi segala PENGORBANAN yg dilakukan masa ber'couple' tu..
Tidak terasa pun kehilangannya..

Mase bercinta memang indah..
Semuanya indah..
Sikit-sikit gurau-gurau
Sikit-sikit gelak-gelak
kalau merajuk men pujuk2..
kalau 'birthday' kita sambut sama-sama..

Untuk diri ini,terasa amat bahagia..
Sebab masa itulah terasa diri ini dihargai..
Saya pernah terikir..
Biarlah kawan-kawan saya tu pandang saya semacam,
kata saya macam-macam..
Asalkan awak memahami saya..

Satu hari saya dengar ceramah..
Alhamdulillah..
Dalam ceramah tu saya sedar,saya banyak buat dosa
dan saya kena brubah..
Hidup saya mesti selari dengan Islam..
Saya kena jadi baik..
Sebab memang itu fitrah manusia..menginginakan kebaikan..
semua orang nak masuk syurga kan?

Sejak dari saat itu saya mula rapatkan diri dengan masjid..
Rapatkan diri dengan Al-Quran..
Selalu solat jemaah awal waktu..
Selalu dengar tazkirah..

Saya beli terjemahan Quran, sebab nak tadabbur Quran
Saya beli dua, satu untuk saya, satu untuk awak,
Saya taknak jadi baik seorang diri..
jadi saya ajak awak sekali..
Saya ajak awak baca Al-Quran..
saya kejut awk bangun subuh..(calling)
saya ajak awak saling beri tazkirah..

Mula-mula awak terkejut dengan perubahan saya..
Awak ingat saya dah nak jadi alim, nak brenti couple.
Saya kata,kita bukan buat benda yang salah..
bercinta kerana Allah..
Kita couple tak macam orang lain..
Orang lain couple 'jiwang-jiwang' je..
ade yang siap wat mksiat lg..
pegang-pegang tangan dan macam-macam lagi..
Tapi kita couple baik-baik..
Jaga batas-batas syara'..
Tak guna ayat jiwang-jiwang
janji taknak jumpa, takut berlaku maksiat..
cuma sms dan call je..

Dan awk terima perubahan saya itu..
Saya pun banyak nasihat awak..
Awk pun terima..
Walaupun kadang-kadang awak merajuk sebab teguran saya tu
Tapi saya faham, perubahan memerlukan masa..
Dan akhirnya saya rasa..
Hubungan kita semakin diredahai..
Saya salu doa supaya kita akan kekal sampai ke gerbang perkahwinan..

Dalam proses perubahan saya,
Saya mula menyedari bahawa berdakwah itu wajib..
Kita kena menyampaikan kepada orang tentang kebenaran.
Kalau kita tidak berdakwah..
kita akan dipertanggungjawabkan oleh Allah di akhirat kelak.
sesuai dgn firmanNya dlm surah Al-A'raf,
surah ke 7,ayat ke 164:

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di
antara mereka berkata: "Mengapa kamu
menasihati kaum yang Allah akan
membinasakan mereka atau mengazab mereka
dengan azab yang amat keras?" Mereka
menjawab: "Agar kami mempunyai alasan
(pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu,
dan supaya mereka bertakwa".

Lepas tu saya mulalah beri tazkirah pada kawan-kawan dan adik-adik
Tegur mereka apa sahaja yang silap..
Saya tak boleh tahan bila tengok orang buat salah/dose..
Saya mesti nak tegur.
Selemah2 iman tegur dengan hati, oleh sebab saya nak jadi orang kuat iman..
Ape lagi..tegur je la depan-depan..huhu~~

Lepas tu, satu masa..
saya terbaca pasal couple..

"COUPLE HARAM"

Saya tak percaya..
tapi bila baca detail-detail yang dia bagi..
macam betul pulak..
huhu~~
tapi biasala..
kalau kita suka satu benda tu..
kita tetap akan cari alasan untuk 'membenarkan' pendapat kita..

Saya pun buat tak tahu pasal benda tu..
dan teruskan saja hubungan kita..
kita tak buat maksiat..
Kita jalan-jalan pegang tangan..
tak jiwang-jiwang..
Cuma saling ambil berat..
Tanya khabar..
Borak-borak..
Siap bagi tzkirah lagi..
Apa yang haramnya dengan benda ni?
Tak kisahlah..

Masa terus berlalu...

Masa ni dah nak dekat Trial SPM..
lagi tiga minggu sebelum trial..
dalam masa tu, saya memang rajin study dengan kawan..
buat study group
Pada masa yang sama, bagi tazkirah..

Ada yang terima..
ada juga yang buat tak tahu
Kadang-kadang bila tegur..
saya kena marah pula..
macam-macamlah alasannya
ada kata saya tegur tak berhikmah..
ada yang kata saya menunjuk-nunjuk je..
Tapi tak kisah..
saya ada tempat mengadu..
huhu~~

Suatu masa..
ketika sedang mentadabbur Al-Quran seorang diri..
saya terjumpa ayat ini..

Mengapa kamu suruh orang lain
(mengerjakan) kebajikan, sedang kamu
melupakan diri (kewajiban) mu sendiri,
padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)?
Maka tidakkah kamu berfikir?
(Al-Baqarah, ayat 44)

Saya pun terfikir..

"Selama ini aku asyik tegur orang je.
Tapi aku sendiri masih banyak kekurangan,
Cepat marah, suka buang masa,
ade gak dosa-dosa yang masih dilakukan..
Macam mana ya?"

Lepas tu terjumpa pula ayat ini..

Dan janganlah kamu campur adukkan yang
hak dengan yang batil dan janganlah kamu
sembunyikan yang hak itu, sedang kamu
mengetahui.
(Al-Baqarah ayat 42)

Tiba-tiba saya terfikir satu keritikan kawan..

"Alah kau tu..cakap je berapi..gaya alim,tapi couple gak..sama aje kau
dengan kami..tegur orang konon.."

Berfikir sejenak..
Sebenarnye ber'couple' ni boleh ke tidak?
Adakah selama ini saya hanya menganggap ia boleh?
Habis tu, kenapa saya rasa malu bila mak dan ayah
tahu saya selalu berhubung dengan perempuan?
Dan terkadang saya rasa serba salah?

Macam-macam yang saya fikir..

Dipendekkan cerita lagi sekali..
saya ke Pulau Pinang untuk mengikuti satu seminar dkwh..
Saya harap dengan seminar ni kefahaman saya mengenai dakwah akan lebih mantap..

Dalam perjalanan ke seminar tu..
saya masih sms lagi dengan awak dalam bas..
sempat lagi pesan-pesan supaya jangan lupa baca Al-Quran hari ini, solat awal waktu..
Dalam fikiran saya..
"Ni kira dakwah juga..saling ingat-mengingati.."

******

Majlis malam itu berakhir dengan sesi ta'aruf,
pukul 10 semua orang dah bebas untuk aktiviti sendiri
Lagipun kami semua penat..
takkan nak panjang-panjangkan program sampai tengah malam..
pihak penganjur pun faham..

Tiba-tiba saya tergerak hati untuk bertanya dengan fasilitator yang ada di situ..
Saya rasa inilah masa terbaik untuk tanya pendapat dia tentang couple.
Tapi saya tragak-agak..
"Kalaulah betul couple tu salah..habis tu,nak
buat macam mana? Aku kena clash ke?
Alah,buat apa fikir macam tu..tanya je la. Kalau
tak buat salah, apa nak ditakutkan?"

Lalu saya menghampiri 'Brother' fasilitator tu..
Masa tu dia tengah membelek-belek terjemahan Al-Qurannya seorang diri.

"Assalamualaikum, bang, saya nak tanya sikit
boleh?"

"Em,boleh..duduklah. Nta nak tanya apa?"

"Er..macam ni,sebelum saya terlibat dengan dakwah ni, saya ada kenal seorang
kawan ni, perempuan la. Tapi bukanla setakat kawan biasa..rapat gak la. Bukan rapat biasa,tapi rapatla.."

"Bercinta ke?"

Saya malu nak cakap yang saya couple. Nanti apa pula brother tu kate..mesti dia marah nnt. Saya pun angguk. Lepas tu saya tanya..

"Sebenarnya..couple ni boleh ke tak bang?"

"Akhi, memang fitrah manusia, lelaki akan tertarik kepada perempuan, begitu juga perempuan akan tertarik kepada lelaki. Tapi dalam Islam, perasaan itu perlu dikawal dan ada batasnya. Pergaulan perlu dijaga. Allah firman dalam surah Al-Isra', surah ke 17, dalam ayat yg ke 32:
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."

"Tapi bang,saya tak nampak pun yang kami ni menghampiri zina. Niat kami baik. Saya dah cuba sedaya upaya mengawal perhubungan kami. Sms pun takdelah jiwang-jiwang, selalu bagi tazkirah lagi. Kami selang-selang bagi, hari ni saya, esok dia."

Saya tak mahu mengalah.

"Memang betul niat nta baik. Tapi ingat, niat tak pernah menghalalkan cara. Yang batil tetap sahaja batil, yang haq tetap haq. Cuba tengok ayat ni."
Sambil brother tu bukak Al-Quran dia, dan tunjuk pada saya ayat ini:
Dan (juga) kaum Ad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan setan menjadikan mereka memandang baik
perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.
(Surah Al-Anakabut,Surah 29, ayat 38)

"Akhi, kalau nta paham ayat ni, sebenarnya apa yang berlaku pada nta ialah, setan telah buat nta pandang indah benda buruk yang nta lakukan. Walaupun nta berpandangan tajam, maksudnya nta berilmu tinggi. Memang pada mulanya niat nta baik, tapi ingat, syaitan itu sangat licik. Dia akan sedaya upaya buat nta terjerumus ke dalam kemaksiatan. Lagipun, takkanlah sepanjang masa nta sms dengan dia, nta ingat Allah. Mesti ada masanya nta hanya melayan perasaan dengan dia, kan?"

Betul juga katanya. Lepas tu saya kata, "Tapi bang, saya dah janji dengan dia taknak jumpa lg. Sebab saya tahu kalau berjumpa nanti banyak bahayanya. Dan dia pun setuju. Kami sama-sama menjaga diri. Takkanlah ia boleh membawa kepada zina juga bang?"

"Em, betul, nta dah janji taknak jumpa dengan dia lagi. Nta dah dapat

elakkan zina mata, zina tangan, zina kaki. kalau nta janji taknak call die pula, nta dapat elak zina telinga dan zina lidah. Tapi akh..masih ada zina yang tetap nta tak dapat elak apabila bercouple.."

"Zina hati?" Saya menduga.

"Betul, zina hati. Semua inilah yang Rasulullah jelaskan dalam hadithnya tentang bagaimana menghampiri zina tu. Nta boleh 'check' dalam Riyadahus Solihin, bawah bab larangan melihat wanita. Rasulullah bersabda, mata boleh berzina dgn melihat, lidah boleh berzina dengan bercakap, tangan boleh berzina dengan berpegangan. Kaki boleh berzina dengan berjalan ke arah tempat maksiat. Hati pula boleh berzina dgn merindui, mengingati dan membayangi si dia. Hakikatnye, macam mana pun nta buat, nta tetap tak dapat lari daripada zina hati."

Saya terdiam..kelu. Tak tahu apa nak dikata. Semua yang brother tu kata tiada yang salahnya. Kemudian dia sambung..

"Ana dulu pun couple gak. Lagi lama daripada nta. Sejak sekolah sampai dah masuk U, dekat nak gred. Tapi bila ana sedar apa yang ana buat ni salah, ana trus tinggalkan. Ana siap dah fikir, dialah bakal isteri ana, yang akan jadi ibu kepada anak-anak ana. Kalau nak diikutkan lagi besar masalah ana daripada nta."

"Saya risau la bang. Nanti apa kawan-kawan dia kata. Dulu saya selalu minta tolong mereka untuk rapat dengan dia. Mesti nanti mereka semua tak puas hati dengan saya. Dan dia sendiri pula, saya takut apa-apa akan jadi pada dia kalau dia tak dapat terima keputusan ni. Sebab kami dah rapat sgt."

Masa tu saya dah mula sebak. Malu betul. Menangis depan brother tu cerita pasal benda ni. Nasib baik tak ada org lain masa tu. Brother tu jwb..

"Kalau kawan-kawan dia tak puas hati pun, mereka boleh buat apa? Paling teruk pun, mereka akan mengata di belakang nta. Nta tak kurang sikit pun. Lagipun, dalam berdakwah ni, kita nak cari redha Allah, biarlah orang nak kata apa-apa sekali pun, yang penting redha Allah. Kalau Allah tak redha, semuanya dah tak bermakna lagi."

Saya trdiam lagi.

"Pasal die pula, cube nta fikir dari sudut positif, mungkin dia akan terima keputusan nta scara matang. Mungkin dia juga akan buat keputusan untuk tidak lagi bercouple. Ana yakin, die takkan buat apa-apa perkara bodoh. Kalau die buat sekalipun, itu bukan tagguungjawab nta, apa yang nta nak buat tu betul, meninggalkan maksiat. Semua orang akan tanggung balasan atas perbuatannya sndiri."

Saya dah tak dapat tahan lagi. Masa itu saya menangis, saya dah sdar yang saya kena berhenti couple. Dah jelas sekarang, couple tu haram.

"Jadi apa saya nak buat bang?"

"Ana dulu, hantar satu sms je kat dia. Ana terangkan pada dia hubungan yang dibina itu salah. Minta maaf, kita berakhir di sini. Tolong jangan cari saya lagi. Lepas itu ana terus tukar nombor. Ana tak hubungi dia langsung lepas tu."

"Maksudnya, saya tak boleh hubungi dia lagi ke? Tapi bang, saya ade juga kawan perempuan lain, boleh pula saya hubungi mereka?"

"Dengan dia ni lain. Nta dah pernah ada 'sejarah' dengan dia. Tapi, kalau nanti ditaqdirkan nta satu universiti dengan dia, satu kuliah, lepas tu kena pula buat group discussion, masa tu nta hanya layan dia hanya sebagai group discussion partner."

Tiba-tiba saya terfikir..

"Dia ni nak suruh aku clash malam ni gak ke? Sekarang gak? Takkanlah awal sangat?"

Saya cakap..

"Saya rasa saya belum ade kekuatan la bang. Boleh tak saya tunggu sampai saya ada kekuatan, baru saya tiggalkan benda ni?"

Saya ingat nak lari la. Lalu dia jawab..

"Akh, nta kena ingat. Kekuatan itu tidak boleh ditunggu, tapi ia perlu dibina. Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga kaum itu mengubah keadaannya sendiri. Nta boleh rujuk surah Ar-Ra'du,surah ke-13,ayat 11. Lagipun, nta nak tuggu sampai bila baru nak tinggalkan couple ni..abang-abang fasilitator ni pun ramai yang pernah couple, bila masuk dakwah, mereka tiggalkan."

Alamak...tak boleh lari lagilah nampaknye..saya rasa macam brother ni paksa saya clash masa tu juga.

"Semuanya dah jelas rasanya..Nampaknya saya kena tiggalkanla benda ni gak ye. Macam tak larat rasanya nak tekan button handphone ni. Rasa tak sanggup."

"Kalau tak sanggup mari ana tolong tekankan."

"Eh, tak apalah bang. Biar saya taip sendiri."

Teragak-agak saya nak taip masa tu. Tapi saya gagahkn juga diri..

"Semuanya dah jelas..buat apa aku tangguh-tangguh lagi. Takut nanti hidayah ni Allah tarik, susah pula nak tinggalkan. Kan aku selalu doa supaya dijauhkan dari maksiat..jadi rasanya, inilah masanya.."


Lalu perlahan-lahan saya taip sms tu..

"Assalamualaikum..Sebenarnya selama ini hubungan kita salah di sisi Islam. Saya ingat dengan mengubah cara pergaulan kita, ia dah dibolehkan, tapi sebenarnya ia tetap berdosa. Saya harap awak akan istiqamah meneruskan perubahan yang awak dah buat, kerana Allah. Saya minta maaf atas segala yang dah berlaku. Kalau ada jodoh insya-Allah, akan bertemu juga. Assalamualaikum.."

Berat betul nak hantar sms tu kat awk. Saya masih tak mampu nak ucap selamat tiggal. Sebab tu dalam sms tu saya hanya akhirkan dengan ucapan salam. Lepas beberapa ketika..saya tekan juga button [send].

Lepas tu tertera di skrin..

[SENDING..]

[MESSAGE SENT]

Masa tu saya rasa macam separuh hidup saya dah hilang. Macam tak percaya..saya dah hantar 1 sms, dan clash dengan awak..

"Terima kasih bang.."

"Takpe, dah tanggungjawab.."

Malam tu saya saya tidur dengan linangan air mata..tak sangka..mmg tak disangka..Saya memang tak pernah terfikir untuk clash, tapi itulah yang terbaik untuk kita sbenarnya..
Tiba-tiba saya teringat ayat Allah..surah Al-Baqarah,ayat 216..

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

*******

Masa terus berlalu.. Saya terus sibukkan diri dengan kerja-kerja lain. Dalam usaha nak lupekan awk, bukan senang,tapi saya terus cuba. Saya selalu bagi tazkirah, ingatkan orang.
Saya bagi ta'lim di msjid, terangkan pada orang, couple haram, tunjuk segala dalil.. Macam-macam yang berlaku..ada kritikan..ade gk yg stuju..tapi tak kisahlah semua tu..

Tiba-tiba satu pagi ni, dapat sms daripada awak..awak bagi gambar bunga..bawah tu ada ayat..

"Seindah gubahan pertama.."

Saya rasa awak masih tak dapat lupakan saya. Saya pun fikir.."Kena tegaskan rasanya". Lepas tu saya hantarlah sms ni. Dan rasanya itulah yg terakhir..

"Tiada yang lebih indah daripada mendapat keredahaan ilahi..seindah manapun gubahan pertama tu, selagi tak mendapat keredahaanNya, tetap tiada gunanya..

Assalamualaikum..saya tahu, dulu saya cakap, kalau ada jodoh, insya-Allah akan bertemu juga. Tapi saya taknak awak tunggu. Lupakan saya. Biar Allah yang menentukan..Lagi satu,

Jangan cari cinta manusia,
ia penuh dengan penipuan,
kekecewaan,
dan tak kekal..

Tapi carilah cinta Allah..
tiada penipuan,
tidakkan pernah mengecewakan
itulah cinta abadi..
Cinta yang diredahai..

-Yang Terakhir- "

[SEND]

[SENDING..]

[MESSAGE SENT]

Saya dah buat keputusan.
Saya pasti apa yang saya buat ni betul.
Saya yakin, Allah akan sediakan yang terbaik untuk saya.
Saya takkan berpatah balik..

Takkan..buat selama-lamanya..

src : http://www.iluvislam.com/v1/readarticle.php?article_id=568


www.iLuvislam.com
Dr. Asri Zainal Abidin*
editor : kasihsayang

Kegilaan kuasa adalah lambang kedangkalan tentang hakikat kehidupan dunia dan akhirat. Mungkin jika perkara ini disebut kepada orang politik mereka kata “itu cakap yang tidak canggih dalam politik”. Namun mereka lupa, sistem politik perebutan kuasa warisan demokrasi penjajah yang meninggalkan keharmonian sistem Syura dalam Islam itulah yang telah membawa politik kita ke kancah permainan wang, permusuhan, pragmatisme yang melupai prinsip dan segala keburukan yang lain.

Sabda Nabi SAW: Kamu semua begitu bercita-cita terhadap jawatan kepimpinan, ia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Ia sesuatu yang nikmat pada permulaannya tapi keburukan pada akhirnya” (Riwayat al-Bukhari).

Dalam Islam, tanggungjawab kita membaiki keadaan politik, bukan menggilai kuasa politik jatuh ke tangan sendiri. Apabila kuasa itu menjadi kegilaan, maka kawan akan tikam kawan, sahabat akan bunuh sahabat, yang berpakat akan berpecah, yang berbeza prinsip dan dasar akan berpakat, yang tidur sebantal akan mimpi berbeza, bahkan mungkin membunuh kongsi dalam mimpinya. Itulah politik yang meminggirkan wahyu. Meminta jawatan kepimpinan dalam Islam adalah dilarang melainkan dalam keadaan darurat apabila keadaan memaksa seseorang mendapatkannya untuk menyelamatkan umat. Itupun, hendaklah penuh dengan tawaduk dan merendah diri kepada Allah SWT. Usaha untuk mendapatkan jawatan itu dijadikan ibadah yang dijaga disiplin dan peraturannya. Ini seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Yusuf a.s. yang pernah kita sebutkan.

Firman Allah ayat 55-56: (maksudnya) Yusuf berkata: “Jadikanlah aku mentadbir perbendaharaan hasil bumi (Mesir); sesungguhnya aku sedia menjaganya dengan sebaik-baiknya, lagi mengetahui cara mentadbirkannya. Dan demikianlah caranya, Kami tetapkan kedudukan Yusuf memegang kuasa di bumi Mesir; dia bebas tinggal di negeri itu di mana sahaja yang disukainya. Kami limpahkan rahmat Kami kepada sesiapa sahaja yang Kami kehendaki, dan Kami tidak menghilangkan balasan baik orang-orang yang berbuat kebaikan”.

Dalam jiwanya insan mukmin soleh yang terpaksa mendapatkan kuasa itu bukan kegilaan kepada kuasa, tetapi tuntutan dan tanggungjawab membimbing manusia ke arah kehidupan yang berpandukan wahyu Ilahi. Tidak kerana ingin membalas dendam, juga bukan sekadar untuk menurunkan harga barang atau menghapuskan rasuah. Tanggungjawab kepimpinan lebih daripada itu. Tanggungjawab pemimpin adalah membawa kita semua ke dataran yang diredai Allah, menyelamatkan rakyat dari kemusnahan hidup di dunia dan keburukan hidup di akhirat. Dari diri yang insaf dan mendampingi Allah, lidah yang memuja dan memuji kebesaran-Nya dibangunkan niat dan usaha untuk membaiki urusan pemerintahan. Tidak kerana kuasa yang diidamkan, tidak juga kerana harta yang ingin dikumpulkan. Ini dapat dilihat dalam kehidupannya secara peribadi yang berpandukan wahyu, mereka yang di sekelilingnya yang terdiri daripada insan-insan soleh dan mematuhi arahan Allah dan rasul-Nya, bukan insan-insan ‘yang dicurigai’. Jika ini terjadi, tamatlah politik wang, maki hamun, londeh-melondeh, tuduh-menuduh dan matlamat menghalalkan cara seperti yang kita lihat pada gelagat ‘artis-artis’ politik kita pada hari ini. Kita rindukan kuasa politik kita jatuh ke tangan insan-insan yang seperti ini.

Sesungguhnya sudah sampai masanya untuk dilakukan tajdid (pembaharuan) menyeluruh kepada landskap politik kita yang kian serabut dan berselerak. Kita rindukan kempen politik yang penuh harmoni dan mengingatkan kita kepada Allah dan menjauhkan kita dari kegilaan kuasa. Kita rindu mereka yang memasuki daerah politik hanya kerana kejujuran bukan kerana ‘ketagihan kuasa’. Kita rindukan mereka yang seperti ‘Umar bin al-Khattab yang berdoa agar Allah mengambil nyawanya sebelum dia mencuaikan tugasannya. Kita rindukan watak ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz yang menangis bersendirian bimbang kegagalan menunaikan amanah Allah. Kita rindukan kejujuran dan amanah yang menghiasi kecepatan dan ketangkasan dalam bersiasah. Ya Allah! Kami rindukan politik di bawah naungan wahyu-Mu!

*sumber : Dr.Mohd Asri Zainal Abidin (Mingguan Malaysia 10/08/08)

src : http://www.iluvislam.com/v1/readarticle.php?article_id=1212


www.iluvislam.com
*Umar Al-Fateh
Editor: deynarashid

Semalam merupakan hari pertama saya membuat praktikal di hospital. Di Rusia, untuk tahun kedua perubatan, disebabkan masih tidak banyak yang dipelajari, maka sukatan untuk praktikal adalah membuat kerja-kerja yang berkaitan dengan kejururawatan. Semua rakan-rakan telah pulang ke Malaysia menikmati cuti indah bersama keluarga, hanya saya yang gatal kaki untuk cuba mencari pengalaman di sini.

Sepanjang satu hari semalam, hanya satu yang mahu dikongsi. Ceritanya begini.

Jururawat memanggil kami (saya dan seorang lagi pelajar), untuk membantunya membersihkan badan-badan pesakit. Ketika sudah selesai dua tiga orang pesakit, kami mendekati seorang tua, yang berselimut. Ketika kami sampai, di bilik tersebut ada 4 orang pesakit yang lain turut menempati bersama di bilik tersebut.

Jururawat itu, menarik kain selimut yang menyelimuti badan pakcik tua ini, dan dengan itu jugalah, keluar bauan yang sungguh memedihkan hidung. Kami dapati, katil pakcik ini penuh dengan najis (tahi). Hanya Allah yang tahu bau dia macam mana. Ketika ini, dua orang pesakit keluar dari bilik ini untuk duduk di luar, tidak tahan bau yang dihasilkan. Jururawat meminta pakcik ini untuk turun dari katil, dan digagahi oleh seorang pelajar lagi. Saya tidak berani mendekati, hanya memerhati apa yang dilakukan.

Kerja-kerja pembersihan dilakukan, ketika sedang berdiri ini, pakcik tua ini, yang kakinya tidak gagah untuk berdiri, yang ditongkat oleh pelajar, telah membuang air besar di situ juga. Kami yang ada di situ hanya pasrah. Saya hanya membantu menarik kain-kain tilam dari katil. Jururawat menunggu sehingga pakcik ini selesai membuang hajatnya.

Jururawat memberitahu, bahawa pakcik ini selama dia sakit, tiada siapa yang menziarahinya. Dalam hati kecil, kesedihan membungkam jiwa saya. Jururawat ini, mula mengelap bahagian badan pakcik ini, pakcik ini megadu letih berdiri. Kemudian, kami menarik cadar dari tilam dan menggantikannya dengan yang baru. Badan pakcik tua itu, dibersihkan sebelum dia dibenarkan baring kembali.

Selesai itu, lantai dibersihkan dari najis yang dibuang oleh pakcik ini. Setelah segalanya selesai, pakcik tua diberikan baju untuk dipakai semula.

Setelah selesai semua sekali, kami beredar dari bilik tersebut. Saya mengambil tempat di bilik rehat. Hati betul-betul terasa. Merasakan bahwa begitu berharganya seorang anak apabila ibubapa sudah sampai di usia seperti pakcik itu.

Ketika menulis ini, tidak tahu bagaimana mahu mengungkap perasaan ketika itu. Dalam hati hanya berdoa:

“Ya Allah, kau matikanlah daku sebelum sempat aku menderhaka kepada kedua ibu bapaku, dan jika kau anugerahiku isteri dan zuriat, kau matikanlah daku sebelum sempat mereka derhaka kepadaku.”

Balik petang itu dengan seribu satu perasaan gelisah. Gelisah jika diri berada di situasi anak-anak pakcik itu, tidak bersabar malah meninggalkan ibubapa di rumah pesakit. Gelisah jika anugerah isteri dan anak-anak, jadi seperti pakcik itu. Mudah-mudahan diri ini dijauhkan dari segala yang pakcik itu hadapi.

Arzalil ‘umur (surah al-hajj:5) - waktu di mana seseorang sudah hilang kewarasan akal, seperti mana seorang bayi kecil. Di waktu ini, semua ciri-ciri budak kecil ada pada lelaki berumur. Kebersihan dirinya, semuanya bergantung apda orang lain untuk menguruskannya.

Moga-moga diriku dijauhkan dari tahap waktu umur ini.

Volgina Street, Konkova,
117437,Moscow.

src : http://www.iluvislam.com/v1/readarticle.php?article_id=1214


Meninggal secara Khusnul KHOTIMAH " Perhatikan pada dahi seorang Ustadz, perlahan-lahan proses pencabutan nyawa sedang berlangsung oleh "Malaikat Izroil", semoga kita slalu Ingat Mati setiap saat agar kembali kepadanya secara Khusnul Kotimah,, amien ya Rabbal Alamin...

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia...
Allah SWT tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
Allah SWT sudah menghitung air matamu.

Ketika kau fikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berjalan begitu saja...
Allah SWT sedang menunggu bersamamu.

Ketika kau berfikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi...
Allah SWT sudah punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Allah SWT dapat menenangkanmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelefon...
Allah SWT selalu berada disampingmu

Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang...
Allah SWT mempunyai Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya dan Dia telah menciptakan seseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak.

Ketika kau merasa bahwa kau mencintai seseorang, namun kau tahu cintamu tak terbalas...
Allah SWT tahu apa yang ada di depanmu dan Dia sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu.

Ketika kau merasa telah dikhianati dan dikecewakan...
Allah SWT dapat menyembuhkan lukamu dan membuatmu tersenyum.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Allah SWT sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur....
Allah SWT telah memberkahimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Allah SWT telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Allah SWT sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap...
Allah SWT Maha Mengetahui.

Jika kau merasa diberkahi dengan artikel ini, sampaikanlah kepada orang yang kamu sayangi.

src : fwd email


www.iLuvislam.com
buluh*
editor: kasihsayang

PENGENALAN


Qada dan qadar adalah salah satu dari rukun iman yang wajib dipercayai dan diimani oleh setiap orang Islam. Penjelasan mengenai qada dan qadar ini ada dibicarakan di dalam kitab-kitab aqidah dan perbincangannya agak panjang dan adakalanya begitu susah untuk difahami oleh kebanyakkan orang terutamanya bagi sesiapa yang baru menjejakkan kaki dalam perbincangan ilmu aqidah secara mendalam.

Sememangnya perkara aqidah ini memerlukan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Para ulama mengatakan bahawa adalah tidak harus sama sekali untuk bertakliq di dalam persoalan aqidah. Saya berharap dengan tulisan ringkas ini akan memberikan kefahaman yang sempurna kepada semua pembaca pada persoalan qada dan qadar ini. InsyaAllah.

ERTI DAN BAHAGIAN QADA DAN QADAR


Qada bermaksud pelaksanaan. Adapun qadar bermaksud sukatan.

Terbahagi kepada dua bahagian iaitu: Qada Mubram dan Qada Muallaq.

Qada Mubram: Adalah ketentuan Allah Taala yang pasti berlaku dan tidak dapat dihalang oleh sesuatu apa pun. (Contoh: Mati pasti akan berlaku).

Firman Allah Taala bermaksud:
Dan pada sisi Allah Taala jua kunci-kunci semua yang ghaib.
(Surah al-Anaam: ayat 59).

Qada Muallaq: Adalah ketentuan yang tidak semestinya berlaku bahkan bergantung kepada sesuatu perkara. (Contoh: Panjang umur bergantung kepada menghubungkan silaturrahim dan amal kebajikan yang lain).

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Tidak boleh ditolak qadar Allah Taala melainkan doa. Dan tiada yang boleh memanjangkan umur melainkan membuat baik kepada ibubapa.
(Riwayat Hakim, Ibnu Hibban dan Tarmizi).


SEMUA PERKARA DI DALAM PENGETAHUAN ALLAH TAALA


Kedua-dua jenis qada di atas ini adalah di dalam pengetahuan Allah Taala.

Firman Allah Taala bermaksud:
Dan pada sisi Allah Taala jua kunci-kunci semua yang ghaib.
(Surah al-Anaam: ayat 59).

Segala perbuatan hamba adalah diketahui oleh Allah Taala melalui ilmu-ilmuNya. Hanya ianya terlindung dan tidak diketahui oleh hamba-hambaNya yang lemah. Kerana itulah kita disuruh untuk sentiasa berusaha dan taat kepadaNya kerana kita tidak mengetahui apa yang akan berlaku kepada kita nanti.

Pelbagai gambar@e-card menarik. Klik sini.

ANTARA BENTUK KETAATAN

Antara bentuk ketaatan adalah dengan berdoa kepada Allah Taala. Dengan berdoalah seseorang hamba itu akan merasakan dirinya lemah dan berhajat atau memerlukan kepada Allah Taala.

Firman Allah Taala bermaksud:

Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang aku maka (jawablah) bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Aku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Surah al-Baqarah: ayat 186).

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Doa merupakan otak kepada ibadat. (Riwayat at-Tarmizi).

SENTIASA BERUSAHA DAN BERDOA

Setelah diketahui bahawa segala usaha dan doa dari hamba akan didengar dan diambil kira oleh Allah Taala maka dengan sebab itulah perlunya seseoarang hamba itu untuk sentiasa berusaha dan berdoa. Namun segala usaha dan doa ini sudah tentulah di dalam kuasa dan ilmu Allah Taala. Kerana itulah ada dinyatakan bahawa manusia hanya berusaha dan berdoa tetapi Allah Taala jualah yang menentukannya. Disebabkan manusia tidak mengetahui qada dan qadarnyalah maka manusia perlu kepada usaha dan doa.

Firman Allah Taala bermaksud:

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Surah ar-Rad: ayat 11).

KONSEP QADA DAN QADAR

Keperluan kepada konsep qada dan qadar di dalam Islam adalah:

- Menisbahkan kepada Allah Taala di atas segala yang berlaku di dunia ini.
- Beriman bahawa hanya Allah Taala yang memiliki kuasa mutlak menentukan urusan di dunia ini.
- Menyedarkan bahawa manusia itu lemah dan perlu kepada bantuan Allah Taala.
- Hikmah qada dan qadar disembunyikan dari pengetahuan hamba adalah supaya seseorang hamba itu sentiasa berusaha dan taat kepadaNya.

PERINGATAN

Peringatan daripada dalil hadis di bawah ini dapat mengingatkan kepada kita tentang bahayanya mempersoalkan dan memanjang-manjangkan perbincangan mengenai qada dan qadar ini tanpa sebab tertentu. Sebab itulah kebanyakkan para tok guru kita cuba mengelakkan diri dari berbicara mengenai qada dan qadar ini secara panjang lebar terutamanya kepada masyarakat awam.

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Apabila disebut tentang qadar maka diamlah…
(Riwayat Tabrani dan Abu Nuaim).


PENUTUP


Sebagai umat Islam yang beriman adalah kita diwajibkan mempercayai dan mengimani qada dan qadar. Segala yang berlaku adalah dari Allah Taala semuanya. Kita hanya mampu berusaha dan berdoa akan tetapi Allah Taala jualah yang Maha Berkuasa yang menuntukan segala sesuatu itu. Saya ingin sarankan agar kita semua dapat mempelajari ilmu aqidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah dengan lebih mendalam dan terperinci.

*buluh adalah nama pena bagi salah seorang moderator soal jawab agama iLuvislam, Ustaz Rashidi. Beliau adalah pelajar tahun akhir Usuluddin & Dakwah di Universiti Al-Azhar. Artikel ini disunting dari blog beliau, buluh.iluvislam.com.

src : http://www.iluvislam.com/v1/readarticle.php?article_id=1209



oleh:
Abdullah Zaidi Hassan

Peristiwa 26 Disember yang lalu merupakan suatu kejadian alam yang seakan memudarkan tahap kemusnahan yang berlaku pada peristiwa 11 September di New York atau akibat bom atom yang digugurkan di Jepun dulu. Sehebat manapun pekerjaan manusia, ianya tiada terbanding dengan penzahiran dari sifat Qudrat Pencipta. Kesedaran ini sepatutnya membimbing manusia supaya lebih bimbang kepada kemurkaan Pencipta daripada kemarahan kuasa-kuasa besar di dunia. Kesedaran ini membawa manusia supaya mengutamakan keredaan Pencipta daripada keredaan kuasa-kuasa besar di dunia.

Kemusnahan yang ‘partial’ ini mengingatkan kita kepada kemusnahan yang ‘absolute’ yang akan berlaku menjelang hari Qiyamat nanti. Gegaran bumi pada bacaan sembilan skala Ritcher adalah sebahagian bayangan kepada kedahsyatan yang akan berlaku pada gempa yang hebat itu. Kita sebagai muslim, menilai seluruh peristiwa yang berlaku dengan ungkapan kesedaran “ Wahai Tuhan, tiadalah Engkau jadikan perkara ini begitu sahaja, Maha Suci Engkau, maka selamatkan kami daripada siksaan neraka”. Apa sahaja peristiwa yang berlaku memungkinkan kita terjerumus kedalam neraka, seumpama apabila berlaku tsunami ini, terdapat golongan yang cuba memperdaya manusia lain agar jangan dikaitkan peristiwa ini dengan Pencipta alam dan dengan pengajaran-pengajaran agama. Mereka bersungguh-sungguh mahu manusia lain memahami peristiwa ini pada huraian peringkat fizikal semata-mata , tanpa melihat kepada pemahaman pada peringkat-peringkat yang lainnya.

Muslim dengan pegangan agama yang mencorak paradigm-nya sudah tentu melihat peristiwa dahsyat ini melalui ‘kanta’ aqidahnya. Seumpamanya melalui kanta kefahaman yang dijelaskan di dalam perbincangan aqidah mengikut huraian sifat 20. Huraian ini mengajar kita untuk melihat peristiwa tsunami ini pada tiga peringkat pemahaman.

Peringkat I: Allah tiada Tuhan selain-Nya, bersifat dengan Qudrat dan Iradat. (Perbincangan Hukum Aqal)

Allah melakukan apa sahaja yang dikehendaki-Nya. Tiada yang berlaku di luar kehendak Allah, maha suci Allah daripada mengadakan atau meniadakan sesuatu kerana digagahi oleh yang lain, atau kerana lalai atau terlupa, atau memerlukan ‘illat (penyebab) atau terikat pada tabiat sesuatu itu. Allah memiliki Qudrat dan Iradat yang mutlak, kita sebagai hamba-Nya wajib beriman bahawa Allah mengadakan sesuatu atau meniadakan sesuatu dengan hikmah yang diketahui-Nya, mungkin sahaja hikmah itu diluar kemampuan kita untuk memahaminya. Sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: “Dia(Allah) tidak disoal tentang apa yang diperbuat-Nya, dan mereka (manusia) yang akan dipersoalkan tentang perbuatan-perbuatan mereka”. [al-anbiya:23].

Keyakinan sebegini akan membuatkan kita tidak perlu mempersoalkan, sebagai contoh, kenapa tsunami berlaku di kawasan yang di diami oleh penduduk Islam sedangkan kawasan-kawasan lain yang selamat pula mempunyai penduduknya melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Kita yakin bahawa Qudrat dan Iradat-Nya boleh mengadakan dan meniadakan semua yang mungkin.

Peringkat II. Kita sebagai hamba Allah

(Perbincangan Hukum syara)

Kita sebagai hamba kepada Allah dituntut oleh syara supaya melakukan amalan-amalan tertentu berdasarkan masa, tempat dan keadaan. Syara ada menentukan bentuk amalan yang perlu dilakukan apabila kita ditimpa bencana termasuklah gempa-bumi, syara juga menganjurkan kesedaran kerohanian yang perlu dibentuk ketika kita berhadapan dengan bencana. Di antara tulisan ulama yang mengupas tajuk gempa-bumi secara khusus ialah tulisan Imam Sayuti “Kasyafu al-Solsolati ‘ani wasfi al-Zilzalah”. Kita juga akan mendapat sebutan tentang gempa-bumi pada perbincangan berkenaan tanda-tanda menjelangnya Qiyamat.

Ulama menafsirkan ayat 41 Surah Rum yang bermaksud: “Telah timbul kerosakan di daratan dan di lautan kerana apa yang dikerjakan oleh tangan manusia, supaya dirasakan oleh mereka itu sebahagian daripada akibat dari apa mereka kerjakan, semoga dengan itu mereka kembali (patuh kepada Allah)” dengan antara lain bermaksud Allah membiarkan bencana, temasuk gempa bumi, berlaku apabila manusia melakukan maksiat, serta dihilangkan keberkatan pada bumi tersebut. Apabila manusia mentaati Allah, Allah akan menurunkan keberkatan seumpama yang diisyaratkan di dalam Hadith Abu Daud yang bermaksud: “Suatu hukum hudud yang didirikan di bumi lebih dikasihi (kerana manafaatnya) oleh penduduknya daripada ditimpa hujan 40 pagi”. Hal ini disebabkan apabila hukum agama dilaksana dengan sebenarnya, ia dapat mencegah kebanyakan manusia daripada perkara yang diharamkan, Apabila maksiat ditinggalkan, ianya menjadi sebab terhasilnya berkat daripada langit dan bumi (lihat Asasu fi as-Sunnah wa fiqhiha – Al ‘Aqaidu al-Islamiyyah jilid 2.m/s:1034-1036 ).

Imam Sayuti menyebut yang ulama tafsir menghikayatkan gempa-bumi yang pertama dialami manusia ialah apabila Qabil membunuh saudaranya Habil, bumi telah bergegar selama tujuh hari. Hari ini kita berkebetulan melihat daerah yang kuat dilanda tsunami adalah negeri-negeri yang bergolak dengan perang sesama sendiri seperti Acheh, Selatan Thailand, Sri Langka sehingga ke Somalia di Afrika. Imam ini juga memperingatkan kita yang peristiwa gempa bumi merupakan merupakan peringatan amaran dari Allah SWT kepada hamba-Nya ketika mereka terlibat dengan kemungkaran dan ianya juga merupakan tanda-tanda Qiyamat.

Imam ini juga mendatangkan sebuah athar yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dan al-Hakim:

Saiyyidina Anas telah mengunjungi Saiyyidatina Aisyah , dan di dalam majlis itu telah bertanya seorang lelaki: “wahai Ummu al-Mukminin, ceritakan kepada kami tentang gempa bumi”. Beliau berkata: “apabila perempuan menanggalkan pakaiannya di tempat selain daripada rumah suaminya, terkoyaklah apa yang antaranya dan antara Allah daripada hijab (pendinding daripada azab), apabila perempuan memakai bau-bauan bukan untuk suaminya, baginya neraka dan kehinaan, dan apabila dihalalkan zina, dan meminum arak dan memukul alat muzik, maka menjadikan Allah yang di langit-Nya berfirman kepada bumi “ gegarkan mereka” sekiranya mereka tidak bertaubat dan meninggalkan maksiat, mereka akan dibinasakan dengannya oleh Allah. Maka bertanya Anas: “Apakah itu hukuman terhadap mereka (penduduk yang ditimpa gempa-bumi)?. Aisyhah menjawab: ianya rahmat, keberkatan dan peringatan kepada orang mukmin. Serta ianya siksaan, kemurkaan dan azab ke atas orang kafir”.

Imam ini juga mendatangkan sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam Tarmizi:

Apabila faie’ diambil berdasarkan golongan, dan amanah sebagai harta rampasan, zakat sebagai hutang, belajar bukan kerana agama, apabila lelaki taat kepada isterinya serta durhaka kepada ibunya, seseoarng itu akrab dengan kawan-kawannya serta berjauhan daripada ayahnya, suara ditinggikan di masjid-masjid, yang menjadi pemimpin bagi sesuatu kabilah yang paling fasiq antara mereka, menjadi pemimpin sesuatu kaum yang terhina di antara mereka, penghormatan kepada seseorang kerana takutkan kejahatannya , munculnya penyanyi-penyayi dari hamba perempuan dan alat-alat muzik, meminum arak, orang terkemudian dari ummat ini menghina yang golongan yang sebelum mereka , maka bersedialah ketika itu dengan kedatangan angin merah, dan gempa-bumi, dan bumi tenggelam (cave-in), dan manusia bertukar kepada binatang…

Imam ini juga mendatangkan perkataan ‘Ata al-Khurasani :

Apabila terdapat lima perkara berlakulah lima perkara. Apabila memakan riba, maka berlakulah bumi tenggelam dan gempa-bumi. Apabila zalimnya pemerentah, maka tertahanlah hujan, apabila meluasnya zina, maka banyaklah kematian, apabila ditahan pembayaran zakat, binasalah mata pencarian, dan apabila dikhianati ahli zimmah maka runtuhlah kerajaan.

Ketika berlakunya gerhana matahari pada hari kewafatan anak baginda, Ibrahim, Rasulullah SAW telah bersabda tentang sikap yang perlu ada pada muslim di dalam berhadapan dengan peristiwa gerhana. Sikap itu jugalah yang perlu ada ketika berlaku gempa-bumi :

Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana keduanya kerana kematian seseorang, tetapi keduanya merupakan dua ayat dari ayat-ayat Allah (dari tanda kebesaran Allah), kembali (rujuk mencari reda-Nya) dengan peristiwa keduanya (kejadian gerhana) oleh hamba-hamba-Nya. Supaya dilihat siapa yang takut kepada-Nya dan siapa yang mengingati-Nya

Untuk menghampiri kepada faham, kita umpamakan kita berada di dalam majlis raja. Walaupun raja setakat berdehem ketika kita sedang bercakap atau kita sedang melakukan sesuatu, kita akan segera bertanyakan diri kita “adakah raja berdehem itu sebagai isyarat untuk menegur kita, mungkin kerana kita tersalah cakap atau tersalah laku di dalam majlis baginda”. Raja itu mungkin berdehem kerana tengkuknya parau atau lain-lain sebab, tetapi kita sebagai orang bawahan sentiasa bersikap berhati-hati dan berwaspada terhadap setiap reaksi daripada baginda. Sudah tentu tiada bandingan kebesaran dan kekuasaan seorang raja di dunia ini apabila dikira dengan kebesaran dan kekuasaan Allah, Tuhan sekelian alam, maka adab yang dituntut daripada hamba kepada Tuhannya tentulah lebih halus dan lebih cermat .

Allah SWT berfirman yang bermaksud:

Dan tiada Kami utuskan ayat-ayat (tanda kebesaran ) melainkan untuk menakutkan (hamba-hamba Kami agar mereka kembali taat) (Isra : 59)

Allah kemudiannya mengingatkan kita dengan sikap buruk golongan yang tidak mahu belajar dan insaf dengan peringatan Allah:

Dan Kami menakutkan mereka (dengan pohon zaqqum dan lain-lain azab), tetapi tidak menambah kepada mereka kecuali pendurhakaan yang besar semata-mata (Isra:60)

Amalan yang dianjurkan ketika gempa bumi.

1-Sembahyang

Imam Sayuti juga menulis yang Imam as-Syafie’ telah mengeluarkan riwayat di dalam kitabnya al-Umm dan juga dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam kitab sunan-nya yang Sayyidina Ali bin Abi Talib telah sembahyang sunnat gempa-bumi sebanyak 6 kali ruku dan 4 kali sujud, begitu juga athar sahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah yang menyatakan bahawa sesungguhnya Ibnu Abbas bersembahyang ketika belaku gempa bumi sebanyak kali 4 sujud dan 6 kali ruku. Imam Nawawi telah mengikut Imam Syafie dengan mengatakan sembahyang ini dilakukan secara perseorangan dan bukan secara berjamaah. Dan ianya dilakukan apabila berlaku gempa bumi walaupun di waktu ditegahkan sembahyang untuk sembahyang lainnya.

2-Bersegera ke masjid

Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah : manusia telah kelam-kabut ketakutan ketika berlaku gerhana matahari atau bulan atau seuatu bencana, maka berkatalah Sya’bi: “hendaklah kamu ke masjid , maka sesungguh yang demikian itu daripada sunnah”

3-Membaca istighfar.

Istighfar bagi Saiyyidina Adam

“Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami,sekiranya Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya jadilah kami daripada golongan yang rugi”.

Istighfar bagi Sayyyidina Nuh :

“Dan sekiranya, Engkau tiada ampuni bagi ku dan mengasihaniku , maka aku daripada golongan yang rugi”

Istighfar bagi Sayyidina Musa:

Wahai Tuhan, aku telah menzalimi diriku, maka ampunilah aku

Istighfar Nabi Yunus:

“Tiada tuhan selain Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku telah termasuk golongan yang zalim”.

4- Membuat kebajikan

Ketika berlakunya gempa-bumi disuruh bersedeqah sebagai qiyas kepada amalan yang disuruh ketika berlaku gerhana, membanyakkan tasbih kerana ia dapat melindung daripada azab sebagaimana ketika diserang wabak taun, membanyakkan takbir sebagaimana ketika berlaku kebakaran, membanyakkan berselawat ke atas Nabi SAW, kerana ianya pelindung daripada segala bala, yang dapat menolak segala kejahatan, ianya mendatang kebajikan bagi urusan dunia dan akhirat.

Peringkat III. Sebab-sebab fizikal berlakunya gempa-bumi & tsunami

(Perbincangan Hukum Adat)

Kita diajar untuk memahami dan menerima sebab-sebab fizikal yang mengakibatkan berlakunya sesuatu kejadian, di dalam perbincangan sifat 20, ianya disebut sebagai hukum adat..Hukum adat ditakrifkan sebagai “ketetapan yang kita terima bahawa terdapatnya hubungan di antara sesuatu perkara dengan suatu perkara lain semada dalam menentukan ada atau tiadanya perkara itu, dan penerimaan ini berdasarkan pemerhatian yang hubungan tersebut berlaku secara berulang-ulang, hukum ini diterima walaupun ada keadaannya perkara tersebut tidak semestinya memberi kesan kepada yang satu lagi”

Kenyataan hukum adat ini mempunyai wajah yang sangat saintifik, ianya meliputi menentukan kebenaran sesuatu itu kerana sesuatu fenomena itu berlaku secara berulang-ulang, contohnya air beku pada suhu 0 centigrade dan mendidih pada suhu 100 centigrade, yakni diterima hubungan suhu tertentu dengan sifat beku dan mendidihnya air. Juga diterima terdapat pengekecualian kepada ketetapan itu misalnya tabiat air itu akan sedikit berubah apabila berada di kawasan tanah tinggi yang tekanannya rendah atau ditambah garam kepadanya.

Pada peringkat perbincangan hukum adat ini, kita mengkaji dan boleh menerima kajian orang lain tentang sebab-sebab fizikal berlakunya gempa-bumi yang berpusat di pantai barat Sumatra itu. Kita dapat menerima penerangan yang menjelaskan pergerakan tectonic, kepingan India (Indian Plate) bergerak ke arah timur laut pada kadar 61mm/setahun, lebih kurang kadar pertumbuhan kuku jari tangan kita. Kepingan India ini menyelip masuk ke bawah Kepingan Burma bermula di ‘Sunda Trench’, Apabila terbentuk tekanan yang tinggi pada gerakan kepingan ini, ianya mengakibatkan berlakunya `thrust-faulting’ pada permukaan pertemuan dua kepingan ini, thrust faulting ini mengakibatkan berlaku slip faulting yang selari dengan Sunda Trench dan strike-slip faulting yang setentang (perpendicular) dengan Sunda Trench. Secara keseluruhan, sempadan kepingan tectonic sepanjang 1200km telah mengelunsur (slip), yang mengakibatkan gerakan vertikal setinggi 15 m. Ini menyebabkan permukaan laut di kawasan yang terbabit melonjak naik beberapa meter. Pergerakan permukaan dasar laut inilah pula yang menyebabkan berlakunya tsunami.

Walaupun teori gerakan tectonic banyak membantu kita memahami sebab-sebab berlakunya gempa bumi dan kegiatan gunung berapi tetapi ahli sains masih mencari mekanisma yang lain untuk menerangkan gempa-bumi yang pernah berlaku di New Madrid, Missouri pada tahun 1881-1882 dan di Charleston, South Carolina pada tahun 1886.

Akhir kalam

Kita perlu menilai bumi kita ini melalui perspektif sains conventional dan yang tidak conventional . kita perlu menimbang pendekatan yang disebut Fritjof Chapra di dalam bukunya ‘The Turning Point’ atau oleh Simon Winchester, pengarang Krakatoa:The Day the World Exploded, August 27,1883’ di dalam artikelnya The Year The Earth Fought Back yang disiarkan akhbar The New York Times pada 29 /12/2004. Alam perlu juga dilihat sebagai organisma yang elemen-elemennya berinteraksi sesama sendiri dan bumi bukannya semata-mata menerima apa sahaja yang dilakukan di atas permukaannya.

Aktiviti manusia mungkin menambah parah kesan yang dialami akibat tsunami, banyak hutan-hutan persisiran pantai, termasuk hutan bakau, telah ditebang serta dibina banyak penempatan untuk tujuan perlacongan dan rekrasi di gigi-gigi pantai. Semua ini mendedahkan lebih ramai manusia kepada ancaman tsunami. Kita perlu menimbang semula kewajaran projek yang dirancang atau yang sedang dibangunkan sekiranya ia bersifat janggal dengan susun atur alam itu sendiri seumpama pembinaan bandar di tengah-tengah sebuah sungai. Kita perlu membangunan dengan mengambil kira penyesuaiannya dengan elemen alam di situ dan bukan dengan sikap mahu menundukkan elemen-elemen alam dengan memaksa sesuatu projek di sesuatu tempat tanpa kewajaran. Kita perlu menyesuaikan diri dengan alam sekitar dan bukannya alam sekitar perlu menyesuaikan keadaannya dengan kemahuan kita.

Kita melihat bagaimana masyarakat seluruh dunia tidak dapat bertindak secara efektif tatkala berdepan dengan fenomena alam yang dahsyat ini. Kita tidak dapat membaca isyarat-isyarat awal yang menandakan kedatangan gempa ini walaupun terdapat pusat-pusat pemerhatian gempa bumi dan satelit yang sangat canggih di negara-negara maju seperti di Jepun, Australia dan Amerika.Sebuah artikel di dalam The New York Times pada 31 Disember 2004 “How Scientists and Victims Watched Helplessly” mengambarkan sebahagian keterbatasan pengetahuan dan tindakan manusia apabila berdepan dengan bencana ini.

Kita membaca berita yang melapurkan bahawa ikan-ikan telah berkelakuan ganjil di perairan pantai barat Semenanjung dua-tiga hari sebelum peristiwa ini berlaku. Manusia juga tahu binatang-binatang yang tinggal di dalam lubang bawah tanah akan keluar daripada lubang mereka sebelum berlaku gempa-bumi. Hal ini menunjukkan bahawa sebahagian binatang mempunyai deria yang tidak dimiliki oleh manusia. Inilah sebahagian daripada penzahiran kuasa Allah, dan ianya menambahkan keyakinan kita kepada kebenaran khabar-khabar tentang alam ghaib yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, umpama soalan malaikat di dalam kubur yang dikhabarkan dapat didengar oleh binatang ternakan tetapi terlindung daripada pendengaran manusia dan jin.

Akhirnya kita perlu sedar yang kita sebenarnya idak selamat daripada bala Allah walaupun di mana kita berada, ujian boleh datang di dalam bentuk yang berbeza. Allah memperingatkan kita dengan firman-Nya yang bermaksud:Adakah kamu merasa aman dari Allah yang (kekuasaan-Nya) di langit daripada menenggelamkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi bergoncang atau adakah kamu merasa aman daripada Allah yang (kekuasaan-Nya) di langit menghantarkan ke atas kamu angin kencang yang mengandungi batu, maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana peringatan (Azab)-Ku” (al-Mulk 16-17).

Marilah kita kembali mengerjakan dan mendakwah amalan kebajikan yang batin serta zahirnya pada peringkat dalaman dan luaran diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Semoga kita akan kembali kepada-Nya dengan hati yang sejahtera.

Wallahu ‘alam

Abdullah Zaidi Hassan
Depan Masjid Salor
21 Dzu al-Qaidah 1425.

src : http://www.geocities.com/traditionalislam/menyingkap_tsunami_melalui_sifat20.htm


Semoga sahabat berada dalam keadaan sihat walafiat hendaknya dalam menelusuri(melalui) mehnah dan ujian di dunia ini. Kita hendaklah sentiasa beringat bahwa Allah sememangnya mendatangkan ujian kepada hambanya bagi menilai sejauh mana hambanya ini memikul dan menyelesaikannya hingga sampai ke satu tahap bahawa kita merasakan 'MANIS'nya ujian itu.

Tentang tazkirah ini, rasanya ramai yang lebih berkelayakan dari saya untuk memberi tazkirah pada sahabat, cuma pada kali ini saya cuba memberi sekadar yang termampu buat sahabat sebagai panduan menjalani hidup di dunia ini. Kita kan insan yang selalu dalam kelalaian dan kealpaan. Insan ini perlu diingat-ingatkankan selalu agar senantiasa dalam jalan yang benar dan tidak menyimpang mengikut hawa nafsu yang sentiasa nak merosakkan jiwa manusia. Sahabat memperingatkan saya dan saya pula memperingatkan sahabat. Betulkan?

Sahabat saya, Sememangnya memperbaiki diri ini bukan satu kerja yang senang apatah lagi terpaksa melalui jalan yang agak sukar sehingga sampai ke satu destinasi yang selamat yang dimimpi-mimpikan oleh semua jiwa yang suci. Jiwa sahabat adalah jiwa yang suci lagi murni jika teransang untuk mengubah diri dari segala kekotoran jiwa sebelum ini kepada jiwa yang putih laksana salju pada kedinginan musim sejuk. Adakah kita rasa 'SENSITIF' terhadap peribadi kita ?Bukti sensitifnya kita terhadap diri kita adalah kita sentiasa muhasabah diri kita. Orang yang selalu muhasabah ialah orang yang sensitif terhadap dirinya. Agak-agak bagaimana muhasabah itu berlaku ya?

Tiap-tiap hari MUHASABAH/MENGHITUNG DIRI mesti berlaku. Kita menghisab/menghitung segala apa yang kita lakukan pada hari tersebut. Hari ini banyak mana kebaikan yang kita lakukan . Banyak mana kejahatan yang kita lakukan. Cuma saya nak pesan pada sahabat tentang satu perkara penting yang perlu diberi perhatian! [Kita digalakkan agar JANGAN mengingati segala kebaikan yang kita telah buat seharian. Jangan selalu ingat dan ungkit-ungkit perkara kebaikan yang kita buat . Jangan! Kerana ingatan sedemikian itu akan melahirkan satu rasa yang negatif. Iaitu kita rasa yang kita sentiasa dalam kebaikan dan mungkin datang perasaan bangga bahawa kita ni baik dan berperibadi mulia. Ini lah bahaya nya. Lepas itu kita akan berkurangan melakukan kebaikan dan malas membuat kebajikan lagi. Berasa cukup dengan apa yang telah dilakukan sebelum ini. Saya harap sahabat nampak dan jelas dengan penerangan yang ringkas ini.]

Kita digalakkan untuk berfikir dan mencari ruang kebaikan yang akan kita buat pada hari esok dan berikutnya. Kita mesti fikir tentang itu. Maksudnya esok mesti ada kebaikan yang kita lakukan. Saya mahu beri satu contoh yang waqi'/praktikal berada di dalam kehidupan kita. Pada hari sahabat baca emel ini, adalah hari yang pertama. Muhasabah berjalan seperi biasa. Kata sahabat (di dalam hati), esok sahabat mahu buat kebaikan. Dan hari esok pun menjelma buat sahabat dengan taqdir Allah. Sahabat harus mencari ruang untuk melakukan kebaikan. Oh ya! Ruang untuk kita melakukan kebaikan ada yang datang secara kita tak jangka dan ada yang dah kita jangka. Yang kita jangka seperti , selepas solat Subuh sahabat baca AlQuran, berzikir, berwirid dan lain2 kebaikan. Yang kita tak jangka seperti ada peminta sedekah yang meminta sedekah di luar masjid, ada orang buta yang kehilangan peneman jalan dan ada mak cik tua yang tak mampu memikul beban barang yang dibawa. Semua itu "BONUS' dari Allah buat kita sebagai ruang mencari kebaikan. Di situlah kita menabur kebaikan. Mana kita sangka , ada orang buta itu datang sebagai 'bonus' pada kita. Tetapi ia adalah ujian Allah buat manusia untuk melihat apa tindakan kita. Pahala tersembunyi melalui orang buta itu. Kalau kita tak buat, maka hilanglah 'bonus' itu kan !

Kesimpulan dari perkara ini ialah kita mesti berfikir akan kebaikan yang akan kita lakukan dan JANGAN sekali-kali kita fikir/ungkit-ungkit kebaikan yang telah kita lakukan !

Manakala perkara kejahatan pula wahai sahabatku, Kita tak payah susah-susah pikir/ungkit-ungkit kejahatan yang akan dilakukan. Siapa yang beranggapan seperti itu maksudnya hati itu kotor! Ya lah... Beranggapan yang negatif. Ingin membuat kejahatan.

Bagi muslim sebenar, kita kena renung dan pikir atau kita kena selalu ungkit-ungkit akan kejahatan yg telah kita lakukan. Moga-moga ia menimbulkan kesedaran pada kita bahwa lemahnya kita. Selepas berfikir itu, kita mestilah susuli dengan rasa penyesalan dan tak mahu kembali lagi ke desa kekotoran dan kejahatan tadi. Yang lepas tu biarlah berlalu. Tapi janganlah kita tanam cita-cita untuk mengulangi kejahatan yang lalu.

src : http://fauzynm.tripod.com/Nasihat/Nasihat219/nasihat219.html


www.iLuvislam.com
oleh:everjihad

Dalam kita sibuk membuat persiapan untuk menyambut kemeriahan Hari Raya Aidilfitri yang tinggal beberapa hari lagi, marilah kita fikir dan renungkan sejenak kisah ini yang saya petik dari sebuah blog seorang bapa dimana anaknya telah pergi menghadap Ilahi pada saat-saat kita menyambut bulan yang mulia. Tujuan artikel ini saya siarkan, untuk anda merenung, penamatan hidup seorang insan yang mungkin seusia kita namun lihatlah penamatan hidupnya yang saya kira husnul khatimah melalui petanda-petanda yang Allah tunjukkan. Renungkan, bagaimana agaknya penamatan hidup kita? Apakah nasib akhir kita kelak?

*********************************************

Hati mana tak akan pilu apabila anak tersayang diambil di kala kasih sayang sedia terbelai. Perasaan mana tidak hiba apabila permata hati dirampas ketika dalam dakapan mesra. Emosi mana yang tidak terganggu apabila insan harapan ghaib dalam sekelip mata. Mungkin rintihan ini dek kerana “emotional outburst” yang melulu dan tidak terkawal. Tetapi hakikatnya itulah perasaan seorang ayah yang kehilangan anak tercinta ……

Tanggal Isnin 8 September 2008, di kala umat Islam sedang asyik mengerjakan solat sunat Tarawih, puteriku Siti Hajar dalam diam-diam dijemput menemui PenciptaNya. Umurnya yang baru menempuh 23 tahun, pelajar tahun 1 UIA di dalam bidang Bahasa Arab dan memiliki tubuh badan yang sihat bukanlah merupakan alasan untuk memanjangkan usianya. Saat dan ketika puteriku dah sampai, dan sebagaimana janji Allah swt, 1 saat pun tidak akan ditangguhkan apabila ajal dah tiba. Aku pasrah kepada ketentuan Ilahi.

Kakak, begitulah ia membahasakan dirinya, tidak pernah sakit lebih daripada 2 hari lamanya sebelum ini. Itu pun jarang berlaku. Kakak seorang yang sihat dan aktif di dalam kerja-kerja jamaah dan pelajaran. Secara tiba-tiba Kakak terkena sakit ruam di seluruh badan lebih kurang sebulan yang lalu. Aku ubati Kakak sebagaimana biasa. Ruamnya sembuh tetapi sendi-sendi kakinya pula rasa sengal dan sakit. Ujian darah di SJMC menunjukkan Kakak mengidap “Rheumatoid Athritis” yakni radang sendi di peringkat awal. Menurut doktor yang mana juga aku persetujui, ia hanya kecil, mudah sembuh dan tidak merbahaya. Kakak mengambil ubat-ubatan secara alopati, homeopati dan juga rawatan secara Islam. Hasilnya Kakak hampir sembuh 2 minggu kemudian. Apa yang peliknya, kebiasaan manusia apabila penyakitnya makin sembuh maka tahap kecergasannya pun semakin meningkat. Tetapi tidak dengan Kakak. Kecergasannya semakin menurun walaupun penyakitnya semakin sembuh. Ini yang membingungkanku dan semua orang.

Lebih kurang 1 minggu yang lepas, Kakak tiba-tiba demam. Demam biasa saja, suhu tinggi sikit dan diiringi dengan batuk dan cirit-birit. Walaubagaimana pun keadaannya tidaklah begitu membimbangkan, musim demamlah katakan.

Hari Isnin, ketika aku sibuk bersiap untuk ke tempat kerja pada sebelah pagi, isteriku memaklumkan bahawa Kakak merasa sedikit penat hari itu. Aku jenguki Kakak dan mendapati ia sedang berbaring relaks. “Nampak biasa saja,” bisik hati ku lantas bergegas ke tempat kerja. Di sekitar pukul 6.30 petang aku pulang dari kerja dan terus menjenguk Kakak. Pelik hari tu kerana Kakak tidak berbaring di biliknya sebaliknya memilih berada di bilik tetamu. Sebaik aku masuk, terpandang keadaan penat Kakak yang agak melampau sehinggakan kepala dan tangannya tergoyang-goyang di luar kawalan. “Ini sangat serius,” bentak hatiku. Saya cadangkan kepada Kakak supaya kita ke klinik tetapi Kakak menolak dengan lembut. “Kakak tak taulah ayah, Kakak penat betul hari ini. Boleh tak esok saja kita pergi klinik?”,ujarnya dengan nada yang amat memilukan. Hatiku bagai disiat-siat melihat keadaan Kakak. Aku angguk kepala tanda setuju. Aku duduk di sisinya lantas memegang dan mengusap tangan dan muka Kakak. Suhu badan normal, sendi-sendinya pun sudah tidak sakit lagi dan batuknya pun telah ghaib entah ke mana. Kakak berkata ia semakin sihat. Peluhnya keluar mencurah-curah dan ia berselera sekali makan. Walaupun ketika aku amati wajahnya dalam-dalam kelihatan seolah-olah ia seperti nazak tetapi aku cuba nafikan hakikat ini kerana keadaan fizikalnya tampak semakin baik. Baru aku sedari kemudian bahawa Kakak bukan penat biasa tetapi nyawanya semakin pendek dek ditarik perlahan-lahan oleh Malikul-Maut.

Aku berbual-bual mesra dengan Kakak sambil ia memegang erat tangan ku. Apabila aku menarik tangan untuk pergi bersiap berbuka puasa, Kakak merayu supaya aku tunggu sekejap lagi bersamanya. Aku berjanji akan kembali menemani Kakak selepas berbuka puasa di masjid. Sekembali aku dari masjid aku dapati Kakak semakin ok, siap senyum lagi dan meminta ayah pergi bertarawih ke masjid. Dia dah sembuh, katanya. Aku pergi bertarawih dengan agak ceria apabila mendengar pengakuan Kakak. Telepon bimbit pun tidak “bervibrate” ketika solat bermakna semua ok di rumah.

Ketika aku berada 100 meter dari rumah waktu pulang bertarawih, tiba-tiba telepon bimbit berbunyi. “Cepat bang anak kita tak mahu bangun!”, jerit isteriku. Menurut isteriku kemudiannya, selepas aku ke masjid, Kakak minta nak solat segera selepas azan Isya. Selesai solat ia meminta kebenaran maknya untuk berbaring relaks buat seketika. Maknya pun bersetuju dan membiarkan Kakak berbaring sambil ia sendiri menunaikan solat tarawih berhampiran dengan Kakak. Selesai solat witir isteriku berpaling ke belakang dan mendapati Kakak sedang berbaring tidak bergerak-gerak. Ia lantas cuba membangunkannya tetapi Kakak tetap membisu.

Aku periksa nadinya, cuba mengesan bunyi nafas dan degupan jantungnya, tapi tiada. Aku cuba lakukan CPR, dan sebaik saja aku tiup di mulutnya udara mudah saja sampai ke paru-paru seolah-olah aku sedang meniup melalui straw ke dalam belon. Ini membuktikan bahawa Kakak sudah pergi, pergi selama-lamanya.

Aku tidak mahu menghampakan isteriku. Lantas aku ajak abang ipar ku untuk mengangkat Kakak ke dalam kereta dan segera menuju ke pusat perubatan berhampiran. Sebaik tiba di pusat perubatan berkenaan, doktor di bahagian kecemasan hanya mengambil masa 10 minit untuk mengesahkan apa yang kami amat takuti, yang Kakak telah pun meninggalkan kita lebih setengah jam yang lalu. Air mata semua berguguran tak tertahan-tahan lagi. Aku cuba gagahi bertahan. Sebagai ayah aku kena pujuk ahli keluarga lain. Bagaimana dapat aku lakukan tugas ini jika aku turut sama terheret di dalam pesta air mata. Berterusan doaku semoga aku diberi kekuatan untuk menghadapi ujian yang amat hebat ini. Alhamdulillah makbul.

Doktor tidak tahu nak tulis kematian mengejut ini disebabkan oleh penyakit apa. Umur muda dan tidak ada sejarah sebarang penyakit merbahaya. Dia meminta saya bersetuju dihantar ke hospital kerajaan untuk dibedahsiasat. Aku merayu dan merayu supaya jenazah puteriku tidak disiksa begitu rupa. Berkat doa dan pertolongan semua, sekali lagi Allah swt makbulkan doaku. Jenazah Kakak sedia untuk dibawa pulang ke rumah. Di saat itu pusat perubatan sudah dibanjiri oleh saudara dan rakan yang datang untuk berkongsi sedih. Di sekitar 1.30 pagi, jenazah Kakak sudah ada di rumah menunggu esok untuk dikebumikan. Ayah dan makku di kampong sudah luluh di dalam tangisan hiba. Mereka segera bertolak dari Perlis untuk bersama berkabung bersama keluargaku. Rakan taulan dan saudara mara tidak putus-putus berkunjung ke rumah ku sehingga ke subuh. Pukul 11 pagi Kakak dimandi, dikapan dan disolat jenazah (yang aku imami) sebaik saja selesai solat zohor. Menurut sorang Pak Aji yang tinggal berdekatan masjid mengakui bahawa ini adalah sejarah kehadiran paling ramai makmum bersolat jenazah sejak masjid ini mula dibuka. Rezekimu Kakak.

Kakak selamat dikebumikan di Seksyen 21, Shah Alam sekitar jam 3.00 petang. Ayahku sendiri yang membuat tazkirah dan doa selepas selesai upacara pengkebumian. Kami sekeluarga pulang, pasrah kepada ketentuan Ilahi bahawa Kakak telah pergi buat selama-lamanya menemui allah rabbuljalil.

Ramai teman bertanya bagaimana aku boleh begitu “cool” menghadapi saat-saat kematian puteri sulong tercinta. Jawapannya mudah, kerana kekuatan yang Allah beri kepada ku. Kakak pergi dalam keadaan yang paling baik yang boleh kita minta. Ia anak yang sentiasa patuh kepada ibubapa, berakhlak mulia, sentiasa menjaga kehormatan diri dan ibadat. Malah ketika berbaring, lidahnya tidak lekang membaca Al-Qur’an dan berwirid. Kakak adalah insan yang mudah bertolak ansur dalam bab keduniaan. Jawapannya sentiasa,”Ikut suka hati ayah …..”. Walaubagaimanapun, Kakak begitu tegas dalam bab agama. Berapa kali bapa saudaranya ditegur kerana masih merokok. Kakak diberi pendidikan agama sejak kecil sehingga di Universiti, samada di sekolah atau di rumah. Kakak seorang yang rajin di dalm kerja-kerja jamaah dan memang memiliki jiwa pemimpin. Kehadiran ramai temannya dari UIA membuktikan hakikat ini. Di samping itu Kakak sangat cemerlang di dalam pelajarannya. Beberapa hari selepas meninggal dunia, kami menerima sepucuk surat daripada UIA memaklumkan Kakak tersenarai di dalam Senarai Dekan kerana kecemerlangan akademiknya. Saya menyaksikan sendiri banyak tanda-tanda kurniaan Allah kepada Kakak. Bilik tempat Kakak meninggal dunia harum semerbak bau bunga-bungaan (sehingga ke hari ini) walaupun kita tak pernah bawa masuk sekuntum bunga pun ke dalam rumah. Waktu dimandi jenazahnya oleh maknya tak ada sedikit najis apa pun keluar darinya. Wajahnya puteh berseri-seri, lembut ayu dan tersenyum seolah-olah seperti sedang tidur. Kombinasi semua ini dan banyak lagi memberikan seribu alasan untuk kami lebih gembira daripada bersedih di atas pemergiannya. Namun sebagai ayah, kehilangan Kakak tetap dirasai dan dirindui. Kakak telah membawa bersama secebis hati ayah yang tak mungkin dapat ayah perolehi kembali di dunia ini. Ayah sayang kepada Kakak dunia hingga ke akhirat.

src :


Selawat Nabi S.A.W. - Sheikh Misyari - Click here for more home videos
Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-d alam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar m enanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Ra sulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," ka ta Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

src : http://fauzynm.tripod.com/Nasihat/Nasihat184/nasihat184.html
src : http://fauzynm.tripod.com/Nasihat/Nasihat184/nasihat184.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contributors

 **Note:

For those who wants to use or spread contents in this blog, please proceed without my permission. Shukran Jazilan.

Blog Archive

geocounter

Doa Qunut Nazilah

“Ya Allah, sesungguhnya kami bermohon pertolongan Mu, kami meminta ampun kepada Mu, kami memohon petunjuk dari Mu, kami beriman kepada Mu, kami berserah kepada Mu dan kami memuji Mu dengan segala kebaikan, kami mensyukuri dan tidak mengkufuri Mu, kami melepaskan diri daripada sesiapa yang durhaka kepada Mu.

Ya Allah, Engkau yang kami sembah dan kepada Engkau kami bersalat dan sujud, dan kepada Engkau jualah kami datang bergegas, kami mengharap rahmat Mu dan kami takut akan azab Mu kerana azab Mu yang sebenar akan menyusul mereka yang kufur Ya Allah, Muliakanlah Islam dan masyarakat Islam. Hentikanlah segala macam kezaliman dan permusuhan, Bantulah saudara-saudara kami di mana sahaja mereka berada. Angkatlah dari mereka kesusahan, bala, peperangan dan permusuhan.

Ya Allah, selamatkanlah kami dari segala keburukan dan janganlah Engkau jadikan kami tempat turunnya bencana, hindarkanlah kami dari segala bala kerana tidak sesiapa yang dapat menghindarkannya melainkan Engkau, ya Allah.”

BlogTopSites