4ayesha

Daripada ABU HURAIRAH r.a, RasuluLLah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang menyeru (manusia) kepada hidayah, maka baginya pahala sebanyak pahala yang diperolehi oleh orang-orang yang mengikutnya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka." Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab al-'Ilm (2674), Imam Malik dalam Muattha'(2674), Ahmad (9171), Abu Dawud (4609), Turmudzi (2674), ad-Darimi (513), ibnu Majah (206), ibnu Hibban (112), al-Bagahwi (109)

Followers


“Dan tidaklah aku ciptakan Jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyat: 56)

Berdasarkan ayat di atas para ulama sepakat bahwa jin pun terkena mukallaf, yakni diberikan beban syariat dan bertanggung jawab atas setiap tindakannya di muka bumi ini. Mereka shalat, pergi haji dan berpuasa.
Karena itu, menurut Abu Azka Fathin Mazayasyah dan Ummi Alhan Ramadhan M dalam “Bercinta dengan Jin”, tak heran jika mereka juga berlomba-lomba untuk beribadah dan ikut belajar beribadah pada manusia. Apabila ada jin yang ikut shalat dengan manusia, maka boleh jadi mereka itu adalah jin muslim yang memang benar-benar ingin belajar pada manusia.

Secara historis, awal mula jin masuk Islam berawal dari sebuah “investigasi langit.” Suatu kali para jin ingin mencuri informasi dari langit. Kemudian mereka terhalang oleh sesuatu hal yang tak mereka ketahui. Para jin itu dilempari dengan pancaran-pancaran api, sehingga memaksa mereka untuk kembali ke kaumnya.

Kaum jin tersebut kemudian bertanya pada mereka yang pulang kembali itu. Ada apa dengan kalian semua? Mengapa kalian kembali lagi sebelum memperoleh rahasia langit?” Para jin yang telah gagal menjalankan misinya itu menjawab, “Kami terhalang untuk memperoleh informasi langit. Bahkan, kami dilempari dengan pancaran api.” Kaum jin itu kemudian berkata: “Hal itu tidak mungkin terjadi begitu saja. Pastilah telah terjadi sesuatu yang sangat penting. Coba kalian mengelilingi seluruh penjuru bumi, mulai dari timur hingga barat!”

Maka serombongan jin pun berangkat untuk mencari sumber penyebab dari kejadian yang tengah menimpa mereka. Ketika mereka melintasi jalan di Tihamah, mereka mendengar lantunan ayat suci al-Qur’an dari Rasulullah Saw., yang pada saat itu tengah menunaikan shalat Subuh bersama para sahabatnya. Para jin itu pun berhenti dan mendengarkan dengan seksama ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca Rasulullah Saw.

Setelah selesai mendengarkan bacaan ayat suci al-Qur’an itu, mereka lalu berkata: “Inilah yang menyebabkan kita semua jadi terhalang untuk mendengarkan berita dari langit.” Kemudian para jin itu kembali ke kaumnya seraya menyampaikan apa yang baru saja mereka alami.

“Kami telah mendengarkan al-Qur’an yang amat mengagumkan. Ayat-ayat itu memberi petunjuk pada kebenaran. Sungguh, kami telah beriman kepada-Nya dan kami tidak akan menyekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kita.”

Kisah di atas diambil dari riwayat Ibnu Abbas. Itu merupakan “tonggak sejarah” bagi bangsa jin. Sebab, setelah itu sebagian dari bangsa jin kemudian belajar agama Islam pada Rasulullah. Sejak itulah “klaim identitas” sebagai jin Muslim mulai muncul. Artinya, bangsa jin yang mengikuti syariat Nabi dengan cara shalat, bersedekah dan puasa, adalah mereka yang beragama Islam. Sedangkan yang tidak mau mengikutinya dianggap sebagai jin kafir. Padahal, sejak awal mereka mendapatkan taklif (beban syariat).

"Dan sesungguhnya di antara kami ada orang orang yang shalih dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda beda." (QS. Al-Jin: 11)

Dalam konteks berpuasa, bagaimana cara bangsa jin menjalankannya? Apakah puasa mereka berbeda dengan puasanya bangsa manusia ataukah sama?
Jika kita menengok kisah di atas nampak bahwa perjalanan spiritual bangsa Jin bermula dari Rasulullah. Artinya, mereka memeluk Islam setelah mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an dari Rasulullah, bukan dari yang lain. Karena mereka belajar dari Rasulullah, tentu puasa mereka pun sama seperti puasanya Rasulullah. Artinya, ketika mereka berpuasa berarti saat mereka tidak makan, minum dan hubungan seks sejak fajar hingga terbenamnya matahari.

Kita sudah mafhum bahwa hidup bangsa jin layaknya manusia. Mereka makan, minum dan hubungan seks. “Bangsa jin itu juga makan seperti kita, hanya saja makanannya tidak sama dengan makanan kita dan adakalanya dia mencuri makanan kita sebagaimana setan mencuri makanan zakat dari Abu Hurairah yang diperintah oleh

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjaganya,” ujar Abu Dzaka dalam “forum.nu.or.id”.

Menurut Ustadz Budi Ashari yang dikutip dari “assunnah.or.id” bahwa sesungguhnya bangsa jin sama dengan manusia, yaitu sama-sama makhluk dan tugasnya sama yakni beribadah. Dan di antara mereka ada yang mau beribadah serta ada yang tidak, ada yang mempunyai aliran yang sesat dan ada yang tidak dan sebagainya. Jadi sama dengan manusia.”

Hanya saja, kita tidak tahu bagaimana cara mereka melakukannya. Namun, yang jelas, ketika mereka berpuasa, mereka menanggalkan semuanya itu seperti halnya bangsa manusia.

Petunjuk lain bahwa puasa bangsa jin juga sama dengan puasanya para manusia adalah kisah berikut ini yang kemudian kami qias-kan. Pernah diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Husain kepada Ibnu Dunya. Muhammad sendiri memperoleh sumber cerita dari Yazin Al-Ruqasyi. Sedang Al-Ruqasyi mendengarnya dari Shafwan bin Mahrazi Al-Mazini, sebagai orang yang mengalami secara langsung peristiwa tersebut. Saat kejadian, Shafwan tengah melaksanakan shalat tahajjud sendirian di rumahnya. Sebelum memulai shalat, Shafwan sudah merasa ada sesuatu yang aneh di sekitarnya. Tidak seperti biasanya, malam itu ia merasakan kehadiran energi lain yang mengitari dirinya.

Berkali-kali ia mencoba untuk konsentrasi agar bisa melaksanakan shalat dengan khusyuk dan hati tenang. Tetapi, tetap saja ia merasa agak takut, tanpa sebab yang jelas. Bulu kuduknya pun ikut-ikutan merinding. Shafwan merasakan kalau ada makhluk gaib yang tengah mengawasinya. Kendati diliputi oleh perasaan gelisah, Shafwan tetap melaksanakan shalat tahajjud-nya malam itu. Ia berpikir, seandainya terus-menerus mengikuti rasa gelisahnya, bisa-bisa keburu datang waktu Shubuh, sehingga nantinya ia tak dapat melaksanakan shalat tahajjud.

Ketika Shafwan mulai membaca ayat-ayat al-Qur’an dalam rakaat pertama, tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut di belakangnya. Suara itu terdengar bergemuruh dan sangat ramai seperti di pasar. Tentu saja Shafwan jadi sangat kaget. Tetapi, karena sedang shalat, keterkejutannya itu ia pendam saja. Pada rakaat kedua, kembali terjadi hal yang sama. Begitu seterusnya. Setiap kali Shafwan membaca ayat-ayat al-Qur’an, suara ribut-ribut di belakangnya selalu terdengar. Lama-lama, Shafwan jadi sangat ketakutan. Badannya gemetar dan suaranya pun ikut tersendat-sendat.

Mendengar suara bacaan shafwan yang mulai tidak mulus lagi, terdengarlah ada suara yang mengajak berbicara pada Shafwan, tanpa ada penampakan yang kasat mata. “Hai hamba Allah, janganlah engkau takut. Kami ini adalah saudara-saudaramu dari bangsa jin yang ingin ikut beribadah bersamamu,” demikian suara itu berkata kepada Shafwan.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, hati Shafwan jadi tenang kembali. Ia pun tetap melanjutkan shalatnya dan tak perduli lagi dengan suara ribut yang terdengar dari belakangnya.

Kisah ini menunjukkan betapa shalat yang dikerjakan manusia juga dikerjakan oleh jin. Para jin mengekor shalatnya manusia. Atas dasar inilah dapat diambil kesimpulan bahwa puasanya bangsa jin sama dengan puasanya para manusia. Satu singkat jawabannya, karena para jin belajar agama Islam pada Rasulullah. Jadi, ritual ibadah apapun yang dikerjakan oleh mereka pasti sama dengan yang dikerjakan Rasulullah.

Wallahu a’lam bil shawab!

Eep Khunaefi

src : http://bengkelhidayah.blogspot.com/2010/07/apakah-jin-berpuasa.html



src : http://lanunsepet.blogspot.com/2011/06/cara-solat-sunat-dhuha-yang-ringkas.html



KISAH perjalanan mana-mana individu yang memeluk Islam, selalunya menarik dan unik untuk kita ketahui. Begitu jugalah kisah mualaf warga kulit putih dari Amerika Syarikat ini, Ibrahim Killington.

Dia pada asalnya ingin mengkaji mengenai agama pagan atau animisme. Namun lain yang dikaji lain pula jadinya. Kajian itu membuatkan Ibrahim akhirnya bertemu cahaya dan menerima hidayah Islam, sekali gus terselamat daripada menganut fahaman animisme itu.

Sebelum memeluk Islam, tabiat minum arak, dadah dan budaya hedonisme menjadi tuhan-tuhan yang disembahnya.

"Seluruh tujuan hidup hanya untuk bersenang-senang, ketawa ria dan tidak ada yang lain, selain berfoya-foya.

"Mungkin sampai mati begitulah gaya hidup yang menjadi amalan saya. Pergaulan dengan mereka yang memiliki kebiasaan yang sama, tentu sahaja tidak membuat diri ini menjadi lebih baik," katanya.

Kejadian yang menggemparkan seluruh dunia, iaitu serangan terhadap Pusat Dagangan Dunia (WTC), New York pada 11 September 2001 sering memberikan pengalaman pertama kepada bukan Islam terhadap Islam.

Kejadian itu membuatkan ada di kalangan rakyat AS pertama kali mendengar mengenali Islam. Itulah juga yang terjadi kepada Ibrahim.

"Saya masih ingat ketika itu saya masih muda lagi. Saya tidak sepenuhnya menyedari apa yang sedang terjadi. Bahkan, selepas membaca laporan berita, saya menganggap bahawa pelancong (tourist) telah mengisytiharkan perang terhadap Amerika, kerana saya belum pernah mendengar mengenai istilah pengganas (terrorist) sebelum ini," katanya.

Sementara perang terhadap keganasan yang didalangi oleh Amerika Syarikat dan sekutunya Britain yang selepas kejadian 9/11 terutamanya di Iraq dan Afghanistan memberikan kesan dan pengaruh yang sangat mendalam kepada Ibrahim.

"Saya mulai memahami bahawa mereka yang diburu dan diperangi ini adalah Muslim. Dalam anggapan saya, umat Islamlah yang melakukan kekejaman yang mengerikan di seluruh dunia. Melalui laporan media yang berat sebelah itu, saya mula membenci umat Islam.

"Bahkan saya cuba menyertai angkatan tentera Amerika sebanyak tiga kali dengan tujuan dapat pergi ke Afghanistan dan membunuh seramai mungkin umat Islam di sana.

"Ini sebagai sebahagian daripada usaha dan sumbangan saya untuk membela serta melindungi keluarga daripada ancaman dan keganasan umat Islam.

"Pada waktu itu, fikiran saya mengatakan bahawa penganut Islam itu telah melakukan kejahatan besar dunia," katanya.

Antara yang kuat mempengaruhi Ibrahim adalah maklumat dari sebuah stesen radio yang membicarakan teori-teori konspirasi keganasan yang mengaitkan umat Islam.

"Mereka membicarakan mengenai pentingnya menyokong kempen antikeganasan tersebut sambil dibicarakan juga corak kehidupan Nabi Muhammad yang kononnya seorang yang dahagakan darah terutama dari peperangan melawan mereka yang tidak bersalah.

"Segala maklumat tersebut menyebabkan kebencian saya terhadap Islam begitu membuak-buak. Saya benar-benar tertanya apa yang diyakini oleh umat Islam sehingga sanggup menerima dan mempertahankan agama mereka," katanya.

Mulai saat itu, Ibrahim memulakan pencarian yang boleh memberikan jawapan kepada segala macam persoalan.

Ibrahim memulakan pencarian tersebut dengan cuba mengenal fahaman Mitologi Nordik dan Paganisme.

Namun seorang temannya mencadangkan agar dia tidak sahaja menyelidik mengenai paganisme, tetapi lebih baik turut melihat ajaran-ajaran spiritual yang lain.

Nasihat daripada temannya itu membuatkan Ibrahim memilih Islam untuk dibuat kajian dan untuk dikenali, iaitu dengan cara yang agak mudah - melayari Internet.

Maklumat pertama atau lebih tepat, individu Muslim pertama yang beliau temui melalui Internet ialah Baba Ali atau pengasas bersama Mahdi Ahmad sebuah syarikat penerbit filem Islam, Ummah Filem yang menerbitkan rancangan televisyen dan laman web bersiri Reminder dan Ask Baba Ali yang bercorak humor. Ia disiarkan di Britain dan sering menjadi tetamu khas untuk pelbagai seminar dan program-program Islam.

"Saya terkejut bahawa Baba Ali (berasal dari Iran dan lahir pada 1975 dengan nama asalnya Ali Ardekani sebelum memeluk Islam pada usia 20 tahun) seorang Muslim yang lucu namun sangat santai dalam menyampaikan maklumat mengenai Islam. Saya sangat menyukai caranya itu.

"Peliknya, Baba Ali tidak menyimpan janggut lebat atau menjerit dan berteriak bunuh kafir! Bunuh kafir! Yang pasti, Baba Ali berjaya membunuh segala pandangan buruk dan negatif saya selama ini terhadap Islam," kata Ibrahim.

src : http://www.utusan.com.my/info.asp?y=2012&dt=0524&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_02.htm

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contributors

 **Note:

For those who wants to use or spread contents in this blog, please proceed without my permission. Shukran Jazilan.

geocounter

Doa Qunut Nazilah

“Ya Allah, sesungguhnya kami bermohon pertolongan Mu, kami meminta ampun kepada Mu, kami memohon petunjuk dari Mu, kami beriman kepada Mu, kami berserah kepada Mu dan kami memuji Mu dengan segala kebaikan, kami mensyukuri dan tidak mengkufuri Mu, kami melepaskan diri daripada sesiapa yang durhaka kepada Mu.

Ya Allah, Engkau yang kami sembah dan kepada Engkau kami bersalat dan sujud, dan kepada Engkau jualah kami datang bergegas, kami mengharap rahmat Mu dan kami takut akan azab Mu kerana azab Mu yang sebenar akan menyusul mereka yang kufur Ya Allah, Muliakanlah Islam dan masyarakat Islam. Hentikanlah segala macam kezaliman dan permusuhan, Bantulah saudara-saudara kami di mana sahaja mereka berada. Angkatlah dari mereka kesusahan, bala, peperangan dan permusuhan.

Ya Allah, selamatkanlah kami dari segala keburukan dan janganlah Engkau jadikan kami tempat turunnya bencana, hindarkanlah kami dari segala bala kerana tidak sesiapa yang dapat menghindarkannya melainkan Engkau, ya Allah.”

BlogTopSites