4ayesha

Daripada ABU HURAIRAH r.a, RasuluLLah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang menyeru (manusia) kepada hidayah, maka baginya pahala sebanyak pahala yang diperolehi oleh orang-orang yang mengikutnya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka." Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab al-'Ilm (2674), Imam Malik dalam Muattha'(2674), Ahmad (9171), Abu Dawud (4609), Turmudzi (2674), ad-Darimi (513), ibnu Majah (206), ibnu Hibban (112), al-Bagahwi (109)

Followers



Seorang teman baru saja bercerita bahwa putranya wafat dalam usia 8 tahun tanpa sempat menikmati kehidupan seperti layaknya anak-anak. Sejak lahir sang putra tidak memiliki tulang belakang yang menyangga tubuh sehingga tak mampu duduk apalagi berdiri. Sepanjang hidup, putranya hanya berbaring di tempat tidur. Jika pun ingin duduk harus menyandar pada orang dewasa. Jika bepergian cukup digendong sebagaimana kita menggendong ransel. Saya tentu saja merasa sangat prihatin mendengar ceritanya. Tapi saya kemudian menjadi terkejut ketika teman ini bertanya “Apakah ada yang namanya hukum karma dalam Islam?”. Tentu ini bukan pertanyaan mudah karena saya bukan seorang ahli agama Islam. Sepanjang pengetahuan saya, hukum karma dipercaya teman-teman yang beragama Hindu.

Saya mencoba bertanya balik mengapa teman saya sampai pada pertanyaan itu. Katanya, sejak sebelum menikah dia sudah minta suaminya berusaha mencari pekerjaan lain karena status suami yang seorang penentu proyek pada sebuah instansi memungkinkan suaminya mendapat uang dengan cara yang aneh.

Mengapa aneh? Ya. Sang suami mendapat fee lumayan besar setiap kali kontraktor rekanan kantornya mengajukan proyek pembangunan maupun perbaikan jalan. Dengan tandatangannya, sebuah proyek ditentukan jalan atau tidak. Dan sang suami tak pernah mampu menolak tawaran fee yang menggiurkan meski secara kasat mata nampak jelas biaya yang diajukan tak sepadan dengan kemungkinan hasil yang didapat. Maksudnya, sang suami tahu persis dengan nilai proyek itu sebuah ruas jalan akan dibangun dengan panjang dan kualitas tertentu tapi pada realitanya ruas jalan lebih pendek dan kualitas jalan itu tak bertahan lama.

Sebagai istri, teman saya ini takut sekali jika uang-uang yang didapat sang suami akan membawa akibat buruk pada kehidupan mereka nantinya. Karena itu teman saya berulangkali meminta sang suami mencari pekerjaan lain yang lebih jelas dan lebih halal uangnya. Tapi selalu saja ketakutan teman saya itu tak digubris. Bahkan sang suami mentertawainya dengan mengatakan “Nggak mungkin uang yang saya dapat membawa akibat buruk bagi kita. Bahkan kita bisa membeli apa yang kita inginkan selama ini ya karena adanya uang itu”.

Ketika teman saya hamil, sekali lagi dia minta suaminya pindah kerja karena khawatir anaknya akan menerima akibat buruk dari uang yang tak jelas itu. Tapi usahanya sia-sia. Ketika teman ini melahirkan dan mendapati kenyataan sang putra terlahir dengan kondisi begitu mengenaskan, sang suami justru menyalahkan dan menuduhnya telah membuat bayi mereka cacat.


Mendengar cerita ini, saya makin terdiam. Sekilas saya ingat petuah kyai di tempat saya belajar dulu bahwa kita harus pastikan uang yang kita gunakan untuk makan benar-benar halal karena setiap makanan akan menjadi darah dan daging di tubuh dan akan mempengaruhi karakter seseorang.

Kepada teman ini, saya yakinkan bahwa Tuhan yang selalu Maha Pengasih tak akan memberi sesuatu di luar kesanggupan kita menanggungnya. Maka kita harus belajar berpikir positif kepada Tuhan bahwa dengan kejadian yang kita anggap buruk ini, sebenarnya Tuhan hanya sedang membantu kita untuk menjadi lebih kuat. Bukankah ada pepatah yang mengatakan “sesuatu yang tidak membunuhmu, hanya akan menjadikanmu lebih kuat”?

Di rumah saya mencoba mencari sebuah ayat Qur’an yang sepanjang jalan pulang tadi menari-nari di kepala terkait dengan pertanyaannya tentang hukum karma. Dan saya menemukan ayat ini : Karena itu barangsiapa yang mengerjakan kebaikan meski seberat debu, dia pasti akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan meski seberat atom pun, dia pasti akan melihat (balasan) nya pula” (Q.S.99: 7 & 8).

Saya tak tahu apakah kedua ayat di atas bisa diartikan bahwa hukum karma juga dipercaya dalam Islam. Tetapi saya kira kedua ayat tersebut dengan sangat jelas menggambarkan tentang hukum sebab akibat dan pastinya Tuhan ingin kita selalu berhati-hati dalam berpikir dan bertindak baik pada Nya, pada diri sendiri apalagi pada orang lain karena semua yang kita lakukan selalu saja kembali pada diri kita. Bukankah siapa menabur angin akan menuai badai?

Wallahu a’lam

Rahmah Hasjim, Jakarta, Oktober 2009

src : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=15467

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contributors

 **Note:

For those who wants to use or spread contents in this blog, please proceed without my permission. Shukran Jazilan.

geocounter

Doa Qunut Nazilah

“Ya Allah, sesungguhnya kami bermohon pertolongan Mu, kami meminta ampun kepada Mu, kami memohon petunjuk dari Mu, kami beriman kepada Mu, kami berserah kepada Mu dan kami memuji Mu dengan segala kebaikan, kami mensyukuri dan tidak mengkufuri Mu, kami melepaskan diri daripada sesiapa yang durhaka kepada Mu.

Ya Allah, Engkau yang kami sembah dan kepada Engkau kami bersalat dan sujud, dan kepada Engkau jualah kami datang bergegas, kami mengharap rahmat Mu dan kami takut akan azab Mu kerana azab Mu yang sebenar akan menyusul mereka yang kufur Ya Allah, Muliakanlah Islam dan masyarakat Islam. Hentikanlah segala macam kezaliman dan permusuhan, Bantulah saudara-saudara kami di mana sahaja mereka berada. Angkatlah dari mereka kesusahan, bala, peperangan dan permusuhan.

Ya Allah, selamatkanlah kami dari segala keburukan dan janganlah Engkau jadikan kami tempat turunnya bencana, hindarkanlah kami dari segala bala kerana tidak sesiapa yang dapat menghindarkannya melainkan Engkau, ya Allah.”

BlogTopSites