4ayesha

Daripada ABU HURAIRAH r.a, RasuluLLah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang menyeru (manusia) kepada hidayah, maka baginya pahala sebanyak pahala yang diperolehi oleh orang-orang yang mengikutnya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka." Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab al-'Ilm (2674), Imam Malik dalam Muattha'(2674), Ahmad (9171), Abu Dawud (4609), Turmudzi (2674), ad-Darimi (513), ibnu Majah (206), ibnu Hibban (112), al-Bagahwi (109)

Followers


“Dan tidaklah aku ciptakan Jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyat: 56)

Berdasarkan ayat di atas para ulama sepakat bahwa jin pun terkena mukallaf, yakni diberikan beban syariat dan bertanggung jawab atas setiap tindakannya di muka bumi ini. Mereka shalat, pergi haji dan berpuasa.
Karena itu, menurut Abu Azka Fathin Mazayasyah dan Ummi Alhan Ramadhan M dalam “Bercinta dengan Jin”, tak heran jika mereka juga berlomba-lomba untuk beribadah dan ikut belajar beribadah pada manusia. Apabila ada jin yang ikut shalat dengan manusia, maka boleh jadi mereka itu adalah jin muslim yang memang benar-benar ingin belajar pada manusia.

Secara historis, awal mula jin masuk Islam berawal dari sebuah “investigasi langit.” Suatu kali para jin ingin mencuri informasi dari langit. Kemudian mereka terhalang oleh sesuatu hal yang tak mereka ketahui. Para jin itu dilempari dengan pancaran-pancaran api, sehingga memaksa mereka untuk kembali ke kaumnya.

Kaum jin tersebut kemudian bertanya pada mereka yang pulang kembali itu. Ada apa dengan kalian semua? Mengapa kalian kembali lagi sebelum memperoleh rahasia langit?” Para jin yang telah gagal menjalankan misinya itu menjawab, “Kami terhalang untuk memperoleh informasi langit. Bahkan, kami dilempari dengan pancaran api.” Kaum jin itu kemudian berkata: “Hal itu tidak mungkin terjadi begitu saja. Pastilah telah terjadi sesuatu yang sangat penting. Coba kalian mengelilingi seluruh penjuru bumi, mulai dari timur hingga barat!”

Maka serombongan jin pun berangkat untuk mencari sumber penyebab dari kejadian yang tengah menimpa mereka. Ketika mereka melintasi jalan di Tihamah, mereka mendengar lantunan ayat suci al-Qur’an dari Rasulullah Saw., yang pada saat itu tengah menunaikan shalat Subuh bersama para sahabatnya. Para jin itu pun berhenti dan mendengarkan dengan seksama ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca Rasulullah Saw.

Setelah selesai mendengarkan bacaan ayat suci al-Qur’an itu, mereka lalu berkata: “Inilah yang menyebabkan kita semua jadi terhalang untuk mendengarkan berita dari langit.” Kemudian para jin itu kembali ke kaumnya seraya menyampaikan apa yang baru saja mereka alami.

“Kami telah mendengarkan al-Qur’an yang amat mengagumkan. Ayat-ayat itu memberi petunjuk pada kebenaran. Sungguh, kami telah beriman kepada-Nya dan kami tidak akan menyekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kita.”

Kisah di atas diambil dari riwayat Ibnu Abbas. Itu merupakan “tonggak sejarah” bagi bangsa jin. Sebab, setelah itu sebagian dari bangsa jin kemudian belajar agama Islam pada Rasulullah. Sejak itulah “klaim identitas” sebagai jin Muslim mulai muncul. Artinya, bangsa jin yang mengikuti syariat Nabi dengan cara shalat, bersedekah dan puasa, adalah mereka yang beragama Islam. Sedangkan yang tidak mau mengikutinya dianggap sebagai jin kafir. Padahal, sejak awal mereka mendapatkan taklif (beban syariat).

"Dan sesungguhnya di antara kami ada orang orang yang shalih dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda beda." (QS. Al-Jin: 11)

Dalam konteks berpuasa, bagaimana cara bangsa jin menjalankannya? Apakah puasa mereka berbeda dengan puasanya bangsa manusia ataukah sama?
Jika kita menengok kisah di atas nampak bahwa perjalanan spiritual bangsa Jin bermula dari Rasulullah. Artinya, mereka memeluk Islam setelah mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an dari Rasulullah, bukan dari yang lain. Karena mereka belajar dari Rasulullah, tentu puasa mereka pun sama seperti puasanya Rasulullah. Artinya, ketika mereka berpuasa berarti saat mereka tidak makan, minum dan hubungan seks sejak fajar hingga terbenamnya matahari.

Kita sudah mafhum bahwa hidup bangsa jin layaknya manusia. Mereka makan, minum dan hubungan seks. “Bangsa jin itu juga makan seperti kita, hanya saja makanannya tidak sama dengan makanan kita dan adakalanya dia mencuri makanan kita sebagaimana setan mencuri makanan zakat dari Abu Hurairah yang diperintah oleh

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjaganya,” ujar Abu Dzaka dalam “forum.nu.or.id”.

Menurut Ustadz Budi Ashari yang dikutip dari “assunnah.or.id” bahwa sesungguhnya bangsa jin sama dengan manusia, yaitu sama-sama makhluk dan tugasnya sama yakni beribadah. Dan di antara mereka ada yang mau beribadah serta ada yang tidak, ada yang mempunyai aliran yang sesat dan ada yang tidak dan sebagainya. Jadi sama dengan manusia.”

Hanya saja, kita tidak tahu bagaimana cara mereka melakukannya. Namun, yang jelas, ketika mereka berpuasa, mereka menanggalkan semuanya itu seperti halnya bangsa manusia.

Petunjuk lain bahwa puasa bangsa jin juga sama dengan puasanya para manusia adalah kisah berikut ini yang kemudian kami qias-kan. Pernah diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Husain kepada Ibnu Dunya. Muhammad sendiri memperoleh sumber cerita dari Yazin Al-Ruqasyi. Sedang Al-Ruqasyi mendengarnya dari Shafwan bin Mahrazi Al-Mazini, sebagai orang yang mengalami secara langsung peristiwa tersebut. Saat kejadian, Shafwan tengah melaksanakan shalat tahajjud sendirian di rumahnya. Sebelum memulai shalat, Shafwan sudah merasa ada sesuatu yang aneh di sekitarnya. Tidak seperti biasanya, malam itu ia merasakan kehadiran energi lain yang mengitari dirinya.

Berkali-kali ia mencoba untuk konsentrasi agar bisa melaksanakan shalat dengan khusyuk dan hati tenang. Tetapi, tetap saja ia merasa agak takut, tanpa sebab yang jelas. Bulu kuduknya pun ikut-ikutan merinding. Shafwan merasakan kalau ada makhluk gaib yang tengah mengawasinya. Kendati diliputi oleh perasaan gelisah, Shafwan tetap melaksanakan shalat tahajjud-nya malam itu. Ia berpikir, seandainya terus-menerus mengikuti rasa gelisahnya, bisa-bisa keburu datang waktu Shubuh, sehingga nantinya ia tak dapat melaksanakan shalat tahajjud.

Ketika Shafwan mulai membaca ayat-ayat al-Qur’an dalam rakaat pertama, tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut di belakangnya. Suara itu terdengar bergemuruh dan sangat ramai seperti di pasar. Tentu saja Shafwan jadi sangat kaget. Tetapi, karena sedang shalat, keterkejutannya itu ia pendam saja. Pada rakaat kedua, kembali terjadi hal yang sama. Begitu seterusnya. Setiap kali Shafwan membaca ayat-ayat al-Qur’an, suara ribut-ribut di belakangnya selalu terdengar. Lama-lama, Shafwan jadi sangat ketakutan. Badannya gemetar dan suaranya pun ikut tersendat-sendat.

Mendengar suara bacaan shafwan yang mulai tidak mulus lagi, terdengarlah ada suara yang mengajak berbicara pada Shafwan, tanpa ada penampakan yang kasat mata. “Hai hamba Allah, janganlah engkau takut. Kami ini adalah saudara-saudaramu dari bangsa jin yang ingin ikut beribadah bersamamu,” demikian suara itu berkata kepada Shafwan.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, hati Shafwan jadi tenang kembali. Ia pun tetap melanjutkan shalatnya dan tak perduli lagi dengan suara ribut yang terdengar dari belakangnya.

Kisah ini menunjukkan betapa shalat yang dikerjakan manusia juga dikerjakan oleh jin. Para jin mengekor shalatnya manusia. Atas dasar inilah dapat diambil kesimpulan bahwa puasanya bangsa jin sama dengan puasanya para manusia. Satu singkat jawabannya, karena para jin belajar agama Islam pada Rasulullah. Jadi, ritual ibadah apapun yang dikerjakan oleh mereka pasti sama dengan yang dikerjakan Rasulullah.

Wallahu a’lam bil shawab!

Eep Khunaefi

src : http://bengkelhidayah.blogspot.com/2010/07/apakah-jin-berpuasa.html



src : http://lanunsepet.blogspot.com/2011/06/cara-solat-sunat-dhuha-yang-ringkas.html



KISAH perjalanan mana-mana individu yang memeluk Islam, selalunya menarik dan unik untuk kita ketahui. Begitu jugalah kisah mualaf warga kulit putih dari Amerika Syarikat ini, Ibrahim Killington.

Dia pada asalnya ingin mengkaji mengenai agama pagan atau animisme. Namun lain yang dikaji lain pula jadinya. Kajian itu membuatkan Ibrahim akhirnya bertemu cahaya dan menerima hidayah Islam, sekali gus terselamat daripada menganut fahaman animisme itu.

Sebelum memeluk Islam, tabiat minum arak, dadah dan budaya hedonisme menjadi tuhan-tuhan yang disembahnya.

"Seluruh tujuan hidup hanya untuk bersenang-senang, ketawa ria dan tidak ada yang lain, selain berfoya-foya.

"Mungkin sampai mati begitulah gaya hidup yang menjadi amalan saya. Pergaulan dengan mereka yang memiliki kebiasaan yang sama, tentu sahaja tidak membuat diri ini menjadi lebih baik," katanya.

Kejadian yang menggemparkan seluruh dunia, iaitu serangan terhadap Pusat Dagangan Dunia (WTC), New York pada 11 September 2001 sering memberikan pengalaman pertama kepada bukan Islam terhadap Islam.

Kejadian itu membuatkan ada di kalangan rakyat AS pertama kali mendengar mengenali Islam. Itulah juga yang terjadi kepada Ibrahim.

"Saya masih ingat ketika itu saya masih muda lagi. Saya tidak sepenuhnya menyedari apa yang sedang terjadi. Bahkan, selepas membaca laporan berita, saya menganggap bahawa pelancong (tourist) telah mengisytiharkan perang terhadap Amerika, kerana saya belum pernah mendengar mengenai istilah pengganas (terrorist) sebelum ini," katanya.

Sementara perang terhadap keganasan yang didalangi oleh Amerika Syarikat dan sekutunya Britain yang selepas kejadian 9/11 terutamanya di Iraq dan Afghanistan memberikan kesan dan pengaruh yang sangat mendalam kepada Ibrahim.

"Saya mulai memahami bahawa mereka yang diburu dan diperangi ini adalah Muslim. Dalam anggapan saya, umat Islamlah yang melakukan kekejaman yang mengerikan di seluruh dunia. Melalui laporan media yang berat sebelah itu, saya mula membenci umat Islam.

"Bahkan saya cuba menyertai angkatan tentera Amerika sebanyak tiga kali dengan tujuan dapat pergi ke Afghanistan dan membunuh seramai mungkin umat Islam di sana.

"Ini sebagai sebahagian daripada usaha dan sumbangan saya untuk membela serta melindungi keluarga daripada ancaman dan keganasan umat Islam.

"Pada waktu itu, fikiran saya mengatakan bahawa penganut Islam itu telah melakukan kejahatan besar dunia," katanya.

Antara yang kuat mempengaruhi Ibrahim adalah maklumat dari sebuah stesen radio yang membicarakan teori-teori konspirasi keganasan yang mengaitkan umat Islam.

"Mereka membicarakan mengenai pentingnya menyokong kempen antikeganasan tersebut sambil dibicarakan juga corak kehidupan Nabi Muhammad yang kononnya seorang yang dahagakan darah terutama dari peperangan melawan mereka yang tidak bersalah.

"Segala maklumat tersebut menyebabkan kebencian saya terhadap Islam begitu membuak-buak. Saya benar-benar tertanya apa yang diyakini oleh umat Islam sehingga sanggup menerima dan mempertahankan agama mereka," katanya.

Mulai saat itu, Ibrahim memulakan pencarian yang boleh memberikan jawapan kepada segala macam persoalan.

Ibrahim memulakan pencarian tersebut dengan cuba mengenal fahaman Mitologi Nordik dan Paganisme.

Namun seorang temannya mencadangkan agar dia tidak sahaja menyelidik mengenai paganisme, tetapi lebih baik turut melihat ajaran-ajaran spiritual yang lain.

Nasihat daripada temannya itu membuatkan Ibrahim memilih Islam untuk dibuat kajian dan untuk dikenali, iaitu dengan cara yang agak mudah - melayari Internet.

Maklumat pertama atau lebih tepat, individu Muslim pertama yang beliau temui melalui Internet ialah Baba Ali atau pengasas bersama Mahdi Ahmad sebuah syarikat penerbit filem Islam, Ummah Filem yang menerbitkan rancangan televisyen dan laman web bersiri Reminder dan Ask Baba Ali yang bercorak humor. Ia disiarkan di Britain dan sering menjadi tetamu khas untuk pelbagai seminar dan program-program Islam.

"Saya terkejut bahawa Baba Ali (berasal dari Iran dan lahir pada 1975 dengan nama asalnya Ali Ardekani sebelum memeluk Islam pada usia 20 tahun) seorang Muslim yang lucu namun sangat santai dalam menyampaikan maklumat mengenai Islam. Saya sangat menyukai caranya itu.

"Peliknya, Baba Ali tidak menyimpan janggut lebat atau menjerit dan berteriak bunuh kafir! Bunuh kafir! Yang pasti, Baba Ali berjaya membunuh segala pandangan buruk dan negatif saya selama ini terhadap Islam," kata Ibrahim.

src : http://www.utusan.com.my/info.asp?y=2012&dt=0524&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_02.htm



BERBULAN-BULAN usaha mengaturkan sesi fotografi dengan pemuda bernama Don Daniyal Don Biyajid, 28, atau mesra dengan panggilan Ustaz Don ini. Kesibukannya mengehadkan masa bersama media, namun pelawaan wakil TV AlHijrah ke Masjid Al-Azim, Pandan Indah, pada 15 April lalu membuahkan hasil.

Kebetulan ketika itu Ustaz Don terbabit dalam program Cinta Masjid yang bertujuan mengembalikan peranan masjid sebagai pusat perkembangan ilmu dan kegiatan masyarakat.

Sekitar Asar, wakil Rap tiba di pekarangan masjid berkenaan dan apa yang mengagumkan, sepanjang jalan di luar pekarangan masjid di penuhi kenderaan seperti orang menghadiri konsert.

Situasi itu sudah cukup menjelaskan berita mengenai fenomena seorang penceramah agama iaitu Don adalah benar. Bukankah ini satu perkembangan baik? Anak muda mula berminat menonton program agama, mendengar ceramah dan tazkirah selain memilih untuk berada di masjid daripada membuang masa pada hujung minggu.

“Dalam berdakwah, saya tidak pernah meletakkan sasaran untuk golongan remaja saja kerana ilmu itu tidak mengenal batasan usia. Jika remaja suka mendengar dan menonton program agama dikendalikan saya, Alhamdulillah,” kata pengendali program 30 Minit Ustaz Don yang bersiaran setiap Isnin sehingga Khamis, jam 10 malam di TV AlHijrah.

Kesukaran mendapatkan beliau selama ini ekoran komitmen Ustaz Don. Selain terbabit dengan 30 Minit Ustaz Don pada waktu malam, aktivitinya pada sebelah siang dipenuhi dengan tuntutan kerjaya sebagai pensyarah di Jabatan Tahfiz al-Quran dan al-Qiraat di Akademi Islam Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor (Kuis), Bangi serta tugasnya sebagai penceramah bebas.

Pada masa sama, beliau juga sedang melanjutkan pengajian peringkat sarjana dalam pengajian al-Quran dan Sunnah.

Berbicara mengenai fenomenanya, nyata Ustaz Don sedikit gelisah dengan pertanyaan itu kerana enggan dipuja kerana ikhlas berdakwah untuk Yang Maha Esa.

“Ikut Islam, patuh suruhan Allah s.w.t dan Rasul. Jangan puja saya kerana saya manusia biasa. Mati esok, syurga belum tentu buat kita lagi. Sebagai saudara sesama Islam, apa yang boleh kita lakukan adalah saling ingat mengingati.

“Saya berdakwah untuk berkongsi ilmu selain sebagai persiapan menjadi insan dan hamba-Nya yang lebih baik,” katanya.

‘Respons’ mahupun reaksi yang masyarakat berikan kepada penceramah bebas kelahiran Bukit Mertajam itu membuatkan dia pernah berasa janggal pada awalnya.

Namun, Ustaz Don sering menjadikan kisah seorang ulama juga Tokoh Tafsir Mesir, Allahyarham Syeikh Muhamad Mutawalli al-Sya’rawi sebagai contoh dan inspirasi agar sentiasa menunduk ke bumi.

“Syeikh Muhamad Mutawalli al-Sya’rawi adalah ulama hebat dan murah hati. Betapa orang mengaguminya sehinggakan pernah sebaik keluar dari masjid, orang mengerumuninya untuk bersalaman dan memeluknya.

“Sampaikan keretanya turut diangkat. Apabila keadaan sudah reda, beliau minta pemandunya menghidupkan enjin lalu singgah di sebuah masjid. Kemudian beliau membuka baju dan mula mencuci tandas sebagai cara untuk beliau berasa rendah diri.
“Saya sering mengingatkan diri kepada peristiwa ini untuk saya sentiasa tunduk ke bumi,” katanya.

Pemilik Ijazah Sarjana Muda Takhassus Qiraat dari Maahad Qiraat Shoubra, Mesir, itu menambah, semakin kuat iman seseorang itu, semakin galak syaitan cuba memesongkannya.

“Jangan kata orang kuat agama tidak boleh lemas dengan pujian. Puji-pujian boleh menimbulkan rasa bangga diri. Iblis pandai. Dalam hadis ada menyebut Talbis Iblis iaitu pengkaburan yang dilakukan iblis dan mempunyai pelbagai cara untuk menyesatkan orang.

“Satu contoh, jika ada perempuan seksi depan mata, memang langsunglah ustaz tak pandang. Jadi iblis kaburkan dengan mendatangkan wanita bertutup aurat tapi pandai mengurat.

“Saya paling takut menjadi orang yang munafik dan daripada pemerhatian saya, sifat munafik paling ditakuti golongan ulama,” katanya.

Menyingkap pembabitan awal sebagai penceramah bebas, Ustaz Don yang pernah menjadi guru di sebuah tadika di Pulau Pinang, menyampaikan kuliah agama pertamanya di Selangor iaitu di Surau An Nur, Bangi, tiga tahun lalu.

Detik itu tidak mungkin dilupakan lantaran ia permulaan sebagai pendakwah bebas, tambahan pula beliau bertindak sebagai ‘bidan terjun’ menggantikan dua ulama tersohor – Ustaz Haron Din dan Ustaz Ismail Kamus yang tidak dapat memberi kuliah pada hari berkenaan.

Penghujung 2010, sahabatnya, Kamarul Zaman, bekas kakitangan TV AlHijrah memperkenalkannya kepada seorang produser stesen itu yang kebetulan sedang mencari seorang ustaz untuk mengendalikan program baru.

Selepas uji bakat, beliau terpilih mengendalikan program Ihya Ramadan sebanyak 20 episod, yang menyaksikan pelbagai reaksi positif penonton.

Rentetan itu, katanya, lahirlah idea untuk menerbitkan 30 Minit Ustaz Don yang pada awalnya menggunakan judul Tazkirah Ustaz Don. Program berbentuk kuliah interaktif itu sebagai kesinambungan kejayaan Ihya Ramadan.

Menjadi wajah rebutan kebanyakan stesen TV sekarang, Ustaz Don mengakui selesa bersama TV AlHijrah, malah turut berkongsi idea untuk program akan datang.

Beralih kepada topik penampilan beliau yang sering kelihatan berjubah, berserban dan selendang di bahu kanan, tidak bererti beliau menolak pakaian kasual.

“Ulama terkenal, Allahyarham Ustaz Yusof Rawa sangat menjaga penampilannya ketika berada di khalayak sehingga pernah menerima duta keterampilan. Ini bermakna, kebebasan bergaya sememangnya ada asalkan tidak keluar daripada landasan Islam. Saya pun bukanlah ke sana sini mengenakan jubah dan serban, ikut kesesuaian juga.

“Jika bermain boling misalnya, takkan hendak berjubah? Ada masa saya selesa memakai sut dan pakaian formal,” katanya.

Zaman kanak-kanak

DETIK kejayaan hidup seseorang pasti ada kaitan dengan asuhan ketika kecil, cara mereka dibesarkan selain pergaulan sekeliling. Akui Ustaz Don, beliau dilahirkan dalam keluarga yang sederhana iaitu ibunya seorang kerani dan bapanya pula, pembantu makmal.

“Seingat saya, emak dan ayah mahukan anak pertama lelaki tetapi yang sulung perempuan. Jadi apabila lahirnya saya, emak pernah kata dia menyebut ‘Fisabilillah’. Fisabilillah ini pernah disebut datuk Nabi Isa a.s. ketika kelahirannya. Ada kisah menarik di sebalik ungkapan ini.

“Kalau tidak silap saya, ketika berusia tiga hari, bapa membawa saya bertemu gurunya, juga Pengasas Pondok Bagan Lalang, Pulau Pinang, untuk mendapatkan keberkatan.

“Menyingkap cara saya dibesarkan sama seperti kanak-kanak lain. Bagaimanapun, baru-baru ini saya terbaca tulisan Profesor Dr Muhaya Mohamad yang menemu bual emak saya, apakah rahsia emak dalam mendidik saya dan adik-beradik yang lain. Saya pun tak tahu bila temu bual itu dibuat.

“Dalam temu bual itu, emak memaklumkan dia mengambil keputusan untuk berhenti kerja bagi menumpukan sepenuh perhatian untuk menyusukan saya sehingga genap dua tahun.

“Jika saya menangis mahukan susu pada waktu malam, ayah saya akan turut sama bangun membancuh susu untuk emak sebelum emak menyusukan saya,” katanya.

Dalam petikan temu bual itu turut menyebut, ayah Ustaz Don tidak membenarkan emaknya menyusu sambil berbaring. Sebaliknya, ayahnya akan menyediakan belakang badannya untuk emak bersandar menyusukan anak sambil duduk dan memastikan keselesaan semasa menyusu.

Akui mengagumi pengorbanan kedua-dua orang tuanya itu, Ustaz Don semasa kecil sering mengikuti bapanya ke masjid untuk menunaikan solat dan mendengar ceramah agama.

Anak kedua daripada empat beradik itu mendapat pendidikan awal di Sekolah Kebangsaan Kebun Sireh diikuti Sekolah Menengah Kebangsaan Agama, Nibong Tebal, Pulau Pinang. Sewaktu di sekolah menengah, dia adalah pelajar aliran sains.

“Saya bukanlah pelajar cemerlang cuma setakat sedang-sedang saja. Peperiksaan UPSR, PMR dan SPM, saya cuma memperoleh 4A saja. Sewaktu mengikuti pengajian peringkat Diploma di Maahad Tahfiz Al Quran Wal Qiraat Pulau Pinang, kemudian Ijazah Sarjana Muda Takhassus Qiraat di Mesir, saya antara pelajar yang selalu dapat tempat kedua atau ketiga terakhir (ketawa).

“Saya mula minat menghafaz al-Quran selepas tamat SPM (Sijil Pelajaran Malaysia). Al-Quran sangat istimewa dan hanya akan ‘duduk’ dengan siapa yang ia mahu. Ada orang belajar sedari umur empat tahun untuk menghafal al-Quran, tetapi masih tidak mampu melakukannya.

“Wallahualam… apa yang saya tahu mereka yang mendapat kelebihan adalah orang yang menyayangi al-Quran.

“Seperkara lagi, sejak dulu saya selalu patuh kepada kata-kata guru. Menghormati guru nescaya kita akan mendapat keberkatan dalam pelajaran.

“Saya masih ingat ketika bersekolah rendah, saya ada seorang guru, Ustaz Sheikh Redha Salim Ali yang kini sudah meninggal dunia. Setiap pagi saya berjalan ke rumahnya selama 30 minit dan apabila balik dari sekolah, kalau kawan-kawan mahu temankan ustaz pulang, dia akan kata: “Aku nak balik dengan Don.” Ustaz saya itu buta, jadi saya pimpin tangannya setiap kali pergi dan balik sekolah,” katanya.

TRIVIA

Surah yang sering atau dibaca… Surah Al-Kahfi.

Pendakwah dikagumi… ramai, salah seorangnya Datuk Dr Haron Din.

Jika menjadi bapa satu hari nanti… mahu mendidik anak seperti Rasulullah s.a.w. walaupun mustahil, tetapi berharap dapat menjadi ayah yang baik seperti ayah saya.

Jenama kacamata pilihan… Rayban.

Kumpulan muzik yang diminati… Linkin Park. Menurut Ustaz Don, sebahagian lirik lagu kumpulan itu yang dibacanya tidak keterlaluan dan ada yang berunsur kehidupan dan kemanusiaan.

Status… tunangan kepada Husna Mohd Zain, pelajar jurusan perubatan di Universiti Kaherah, Mesir.

Penuhi masa lapang… kerja grafik dan fotografi.

src : http://www.harian-metro-online.com/fonomena-ustaz-don-hafaz-al-quran-selepas-spm



“Segala yang dapat diambil manfaatnya” adalah rezeki. Makna itu diambil berdasarkan kata “rezeki“ yang terdapat dalam terjemahan surah al-Baqarah ayat 3, “… membelanjakan (mendermakan) sebahagian daripada rezeki…”

Rezeki merupakan salah satu kata kunci dalam ajaran Islam kerana berkait rapat dengan konsep tauhid. Dalam surah al-Baqarah ayat 22 dan 57, konsep rezeki itu dikaitkan secara langsung dengan masalah keimanan.

Dalam ayat 22, Allah s.w.t membicarakan tentang hujan yang menyirami pohon-pohon dan menghasilkan buah-buahan “yang menjadi rezeki bagi kamu; maka janganlah kamu mengadakan bagi Allah, sebarang sekutu…”

Dalam ayat 57 pula Allah s.w.t menyuruh, “Makanlah makanan-makanan yang baik yang Kami telah kurniakan kepada kamu. Dan tidaklah mereka menganiaya diri sendiri.”

Kedua- dua ayat itu menunjukkan bahawa masalah rezeki dapat menjadikan manusia menjadi musyrik dan zalim, apabila mereka yakin bahawa rezeki itu dapat diperoleh dari sumber lain selain Allah s.w.t.

HALAL HARAM

Kaum Muktazilah berpendapat bahawa rezeki hanyalah untuk pemberian yang halal, sedangkan yang haram tidak boleh disebut sebagai rezeki kerana pemilikannya tidak sah.

Hujah ini berdasarkan firman Allah s.w.t yang bermaksud: “Orang-orang yang (hendak) bertakwa membelanjakan sebahagian daripada rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (al-Baqarah: 2-3)

Golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah berpendapat bahawa rezeki itu adalah segala sesuatu yang bermanafaat, sama ada yang halal atau yang haram. Rezeki ditafsir sebagai “bahagian”. Oleh hal demikian itu, bahagian yang diperoleh atau digunakan secara tidak sah merupakan bahagian yang haram.

USAHA

Meskipun Allah s.w.t Maha Pemurah dan rezeki-Nya maha luas, namun manusia tidak akan dapat memperoleh rezeki itu jika tidak berusaha. Usahanya menjadi ukuran banyaknya hasil perolehan. Dalam al-Quran ditegaskan: “Dan bahawa sesungguhnya tidak ada (balasan ) bagi seseorang melainkan ( balasan ) apa yang diusahakannya.” (Q.53: 39 )

MAKHLUK

Rezeki Allah s.w.t maha luas dan tidak terbatas pada ruang dan waktu .Rezeki-Nya itu bukan sahaja diberikan kepada manusia tetapi juga kepada segala makhluk-Nya. Hal itu dinyatakan dalam firman-Nya yang bermaksud: “ Dan tiadalah sesuatu pun makhluk-makhluk yang bergerak di bumi melainkan Allah jualah yang menanggung rezekinya.” (Q. 11: 6 )

UKURAN

Dalam al-Quran dinyatakan bahawa Allah s.w.t yang memberikan rezeki kepada makhluk di muka bumi, kerana Dia adalah satu-satunya sumber rezeki( Q.15: 20 ). Dengan kata lain, semua makhluk memiliki hak rezeki daripada Allah s.w.t, namun rezeki bagi semua makhluk itu mempunyai ukuran. (Q.15: 20)

Manusia tidak boleh menggunakan sumber kehidupan(rezeki) untuk kepentingan diri sendiri yang akan menyebabkan terganggunya keseimbangan alam. Keseimbangan alam yang terganggu itu akhirnya akan merugikan manusia sendiri, misalnya penebangan kayu secara berlebihan (tidak terkawal)yang menyebabkan banjir dan perilaku lain seumpamanya.

Susunan IZZAH AZIZ

src :



Pada tulisan kali ini aku ingin mengetengahkan berkenaan dengan qarin. Barang kali ramai yang tidak mengetahui apakah qarin ini. Atau juga ramai diantara kita yang tidak mengetahui keujudannya. Malah keujudan qarin ini bukanlah diantara kita tetapi didalam diri kita sendiri.
Qarin dari perkataan Arabnya yang bermakna teman atau rakan. Istilah qarin di sini bermaksud roh-roh jahat dari kalangan makhluk-makhluk halus yang mengiringi kelahiran seseorang bayi.

Kewujudan qarin ini ialah untuk menggoda manusia, menampakkan hal-hal yang buruk, dan yang jahat-jahat seolah-olah baik pada pandangan mata manusia. Qarin sentiasa berusaha untuk menjerumuskan manusia dengan mengajak mereka melakukan kemungkaran dengan cara menggoda, merayu, memujuk dan menipu. Semua manusia mempunyal qarin sama ada ia nabi atau orang yang alim.

firman Allah:

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Az Zukhruf 43:36)

Qarin membawa dwimaksud.

Maksud 1 - rakan, taulan, kawan dan seumpamanya.

Definisi ini saya dasarkan di atas Firman Allah SWT dari Surah As-Saffat:51 bermaksud : Seorang di antaranya berkata: “Sesungguhnya aku (di dunia) dahulu, ada seorang rakan (yang cuba menyesatkan aku)”

Maksud 2 - Iblis atau syaitan atau sekutunya (Jin) yang menjalankan tugas tetap untuk setiap manusia bagi menyesatkan manusia ke jurang kebinasaan.

Definisi kedua ini saya dasarkan atas Firman Allah SWT dalam Surah Qaf Ayat 27 : “(Semasa ia dihumbankan ke dalam neraka Jahannam, ia mendakwa bahawa Syaitanlah yang menjadikan dia sesat; pada saat itu) Rakannya (Syaitan) berkata: “Wahai Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi sememangnya dia sendiri berada di dalam kesesatan yang jauh terpesong)”

Didalam hadith Rasulullah SAW juga ada menceritakan perihal qarin ini dan mensifatkannya dengan terang.

Hadis dari Abdullah bin Mas'ud - Rasulullah S.A.W. bersabda maksudnya :

"Tidak ada seorangpun di antara kamu semua yang tidak ditunjuk untuknya Jin pendamping (Qarin)".

Para sahabat bertanya; "Termasukkah engkau wahai Rasulullah ?,

"Ya" jawab Nabi, Hanya saja aku mendapat pertolongan Allah,sehingga Jin pendampingku memasuki Islam, dan dia tidak pernah mengajakku kecuali yang baik-baik".

Sabda Rasullullah SAW bermaksud:"Sesungguhnya syaitan itu berjalan dalam diri manusia mengikuti pejalanan darah. Oleh sebab itu,aku takut syaitan melontarkan sesuatu tuduhan atau satu kejahatan dalam hatimu"(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)(as-Syaikhan)

Adakah Qarin dan saka itu sama

Jangan pula kita menyamakan qarin dan saka itu satu hal yang serupa dan satu fenomena yang sama sahaja. Kerana ‘saka’ itu adalah sejenis makhluk nin yang berkhidmat kepada seseorang (dengan janji-janji yang tertentu) lalu apa bila ia mati ‘saka’ (jin tersebut) diwariskan kepada ahli waris(anak cucu beliau). Saya tidak mengatakan perbuatan memelihara saka ini baik, dan saya juga tidak mengatakannya buruk. Perumpaan dan keterangannya(saka) telah saya sentuh dalam ertikel yang terdahulu.*jin dalam pandangan aku.

Sedang qarin itu adalah jenis jin yang lahir bersama-sama manusia(seseorang individu) itu. Ianya bukalah jin yang diwarisi dari datuk, neneknya.

Qarin adalah kembar manusia

Pada umumnya qarin yang kafir ini kerjanya mendorong dampingannya membuat kejahatan. Dia membisikkan was-was, melalaikan solat, berat nak baca al-Quran dan sebagainya. Malah ia bekerja sekuat tenaga untuk menghalang dampingannya membuat ibadah dan kebaikan.

Untuk mengimbangi usaha qarin ini Allah utuskan malaikat. Ia akan membisikkan hal-hal kebenaran dan mengajak membuat kebaikan. Maka terpulanglah kepada setiap manusia membuat pilihan mengikut pengaruh mana yang lebih kuat. Walau bagaimanapun orang-orang Islam mampu menguasai dan menjadikan pengaruh qarinnya lemah tidak berdaya. Caranya dengan membaca "Bismillah" sebelum melakukan sebarang pekerjaan, banyak berzikir, membaca al-Quran dan taat melaksanakan perintah Allah.

Sabda Rasulullah s.a.w. daripada Abdullah Mas'ud r.a. maksudnya: "Setiap kamu ada Qarin daripada bangsa jin, dan juga Qarin daripada bangsa malaikat. Mereka bertanya: "Engkau juga ya Rasulullah." Sabdanya: "Ya aku juga ada, tetapi Allah telah membantu aku sehingga Qarin itu dapat kuislamkan dan hanya menyuruh aku dalam hal kebajikan sahaja." (Riwayat Ahmad dan Muslim)

Aisyah r.ha. menceritakan bahawa pada suatu malam Rasulullah s.a.w. keluar dari rumahnya (Aisyah), Aisyah berkata: "Aku merasa cemburu." tiba-tiba Baginda berpatah balik dan bertanya: "Wahai Aisyah apa sudah jadi, apakah engkau cemburu?" Aku berkata: "Bagaimana aku tidak cemburu orang yang seumpama engkau ya Rasulullah." Sabda Baginda: "Apakah engkau telah dikuasai oleh syaitan?" Aku bertanya: "Apakah aku ada syaitan?" Sabda Baginda: "Setiap insan ada syaitan, iaitu Qarin." Aku bertanya lagi: "Adakah engkau pun ada syaitan ya Rasulullah?" Jawab Baginda: "Ya, tetapi Allah membantuku sehingga Qarinku telah masuk Islam." (Riwayat Muslim)

Qarin makan dan minum bersama manusia yang didampinginya

Ibn Muflih al-Muqaddasi menceritakan: Suatu ketika syaitan yang mendampingi oran beriman, bertemankan syaitan yang mendampingi orang kafir. Syaitan yang mengikuti orang beriman itu kurus, sedangkan yang megikuti orang kafir itu gemuk. Maka ditanya mengapa engkau kurus, "Bagaimana aku tidak kurus, apabila tuanku masuk ke rumah dia berzikir, makan dia ingat Allah, apabila minum pun begitu." Sebaliknya syaitan yang mengikuti orang kafir itu pula berkata: "Aku sentiasa makan bersama dengannya dan begitu juga minum."

Qarin akan berpisah dengan "kembar"nya hanya apabila manusia meninggal dunia. Roh manusia akan ditempatkan di alam barzakh, sedangkan qarin terus hidup kerana lazimnya umur jin adalah panjang. Walau bagaimanapun, apabila tiba hari akhirat nanti maka kedua-duanya akan dihadapkan ke hadapan Allah untuk diadili. Tetapi qarin akan berlepas tangan dan tidak bertanggungjawab atas kesesatan atau kederhakaan manusia.

Menggunakan qarin dalam tujuan perubatan

Ada juga dalam sesetengah keadaan, pengamal perubatan menggunakan khidmat qarin untuk tujuan tersebut. Pendapat saya dalam hal ini lebih kepada berkecuali. Namun lebih selamat jika menghindari dari perlakuan ini. Kerana telah diterangkan diawal-awal tadi sifat qarin ini adalah jahat pada asalnya. Dan menjadi baik(islam) apabila diislamkan. Tetapi tertakluk kepada tahap-tahap yang tertentu(Rasulullah). Sedangkan dalam hadith Nabi SAW telah menyatakan.

Daripada Ibnu Umar r.a., sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: "Aku dilebihkan daripada Nabi Adam a.s. dengan dua perkara, iaitu pertama syaitanku kafir lalu Allah menolong aku sehingga dia Islam. Kedua, para isteriku membantu akan daku tetapi syaitan Nabi Adam tetap kafir dan isterinya membantu ia membuat kesalahan." (Riwayat Baihaqi)

Perhatikan didalam hadith ini. “Aku dilebihkan daripada Nabi Adam a.s. dengan dua perkara, iaitu pertama syaitanku kafir lalu Allah menolong aku sehingga dia Islam” dan " syaitan Nabi Adam tetap kafir " Telah dinyatakan yang qarin Nabi Adam a.s tidak diislamkan. Maka lebih sangsilah pada kedudukan(iman) qarin manusia umum ini. Jadi untuk menjadikan qarin itu sebagai salah satu usaha ikhtiar perubatan adalah membimbangkan.

src : http://wirajiwa.bumicyber.com/index.php?option=com_content&view=article&id=248:apakah-atau-siapakah-qarin&catid=16:kitab-kunfu-seri-naga&Itemid=23



I was so far from you
Yet to me you were always so close
I wandered lost in the dark
I closed my eyes toward the signs
You put in my way
I walked everyday
Further and further away from you
Ooooo Allah, you brought me home
I thank You with every breath I take.
Alhamdulillah, Elhamdulillah

All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.
I never thought about
All the things you have given to me
I never thanked you once
I was too proud to see the truth
And prostrate to you
Until I took the first step
And that’s when you opened the doors for me
Now Allah, I realized what I was missing
By being far from you.
Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.
Allah, I wanna thank You
I wanna thank you for all the things that you’ve done
You’ve done for me through all my years I’ve been lost
You guided me from all the ways that were wrong
And did you give me hope
O Allah, I wanna thank you
I wanna thank You for all the things that you’ve done
You’ve done for me through all my years I’ve been lost
You guided me from all the ways that were wrong
I wanna thank You for bringing me home
Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.

Artist: Maher Zain
Album: Thank You Allah
Copyright: Awakening Records 2009

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contributors

 **Note:

For those who wants to use or spread contents in this blog, please proceed without my permission. Shukran Jazilan.

geocounter

Doa Qunut Nazilah

“Ya Allah, sesungguhnya kami bermohon pertolongan Mu, kami meminta ampun kepada Mu, kami memohon petunjuk dari Mu, kami beriman kepada Mu, kami berserah kepada Mu dan kami memuji Mu dengan segala kebaikan, kami mensyukuri dan tidak mengkufuri Mu, kami melepaskan diri daripada sesiapa yang durhaka kepada Mu.

Ya Allah, Engkau yang kami sembah dan kepada Engkau kami bersalat dan sujud, dan kepada Engkau jualah kami datang bergegas, kami mengharap rahmat Mu dan kami takut akan azab Mu kerana azab Mu yang sebenar akan menyusul mereka yang kufur Ya Allah, Muliakanlah Islam dan masyarakat Islam. Hentikanlah segala macam kezaliman dan permusuhan, Bantulah saudara-saudara kami di mana sahaja mereka berada. Angkatlah dari mereka kesusahan, bala, peperangan dan permusuhan.

Ya Allah, selamatkanlah kami dari segala keburukan dan janganlah Engkau jadikan kami tempat turunnya bencana, hindarkanlah kami dari segala bala kerana tidak sesiapa yang dapat menghindarkannya melainkan Engkau, ya Allah.”

BlogTopSites